PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman, menegaskan bahwa teknologi biokimia memiliki peran strategis dalam memperkuat produksi biohidrokarbon berbasis kelapa sawit di Indonesia. Menurutnya, pendekatan ini menawarkan solusi berkelanjutan dengan memanfaatkan mikroorganisme untuk mengubah biomassa menjadi energi alternatif.

“Teknologi biokimia seperti fermentasi dan produksi minyak alga membuka peluang besar dalam diversifikasi sumber energi nasional,” ujar Eddy pada Minggu, 14 September 2025.

Fermentasi merupakan salah satu metode biokimia yang paling umum digunakan. Eddy menjelaskan bahwa proses ini melibatkan mikroorganisme seperti ragi untuk mengubah gula menjadi etanol, yang dapat digunakan sebagai biohidrokarbon sekaligus aditif bensin.

“Fermentasi tidak hanya efisien, tetapi juga ramah lingkungan karena memanfaatkan bahan organik yang dapat diperbarui,” katanya.

Selain fermentasi, produksi minyak alga juga menjadi sorotan dalam pengembangan biohidrokarbon. Alga, sebagai organisme fotosintesis, mampu tumbuh di berbagai lingkungan termasuk air laut dan air limbah. Eddy menyebut bahwa minyak yang dihasilkan dari alga dapat diolah lebih lanjut menjadi biohidrokarbon berkualitas tinggi.

“Teknologi ini sangat menjanjikan, terutama untuk wilayah pesisir dan daerah dengan sumber air limbah yang melimpah,” jelasnya.

Industri biohidrokarbon kelapa sawit di Indonesia saat ini menunjukkan perkembangan yang signifikan. Beberapa perusahaan besar seperti PT Pertamina (Persero) dan Pupuk Kaltim telah berinvestasi dalam produksi biohidrokarbon sawit. Eddy menilai bahwa dukungan sektor swasta sangat penting dalam mempercepat adopsi teknologi biokimia.

“Kolaborasi antara riset, industri, dan kebijakan publik akan menjadi kunci keberhasilan transformasi energi ini,” tegasnya.

Lebih jauh, Eddy menyoroti implikasi positif penggunaan biohidrokarbon sawit terhadap pembangunan berkelanjutan. Ia menyebut bahwa biohidrokarbon sawit dapat membantu Indonesia mencapai target-target global yang telah ditetapkan dalam Agenda 2030 oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“Energi bersih, kesejahteraan petani, dan perlindungan lingkungan adalah tiga pilar utama yang bisa diperkuat melalui biohidrokarbon sawit,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Eddy menegaskan komitmen BPDP dalam mendukung pengembangan teknologi biokimia sebagai bagian dari strategi nasional energi terbarukan.

“Kami percaya bahwa biohidrokarbon sawit bukan hanya solusi teknis, tetapi juga jalan menuju masa depan yang lebih hijau, inklusif, dan berdaulat secara energi,” pungkasnya. (TESTI PRISCILLA/J)