PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Frekuensi kunjungan kapal laut di Kalimantan Tengah selama Juli 2025 menunjukkan tren positif dengan peningkatan sebesar 34,22 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menyampaikan bahwa jumlah kunjungan kapal naik dari 713 kunjungan pada Juli 2024 menjadi 957 kunjungan pada Juli 2025.

“Peningkatan ini mencerminkan dinamika transportasi laut yang semakin aktif, terutama dalam mendukung distribusi logistik di wilayah Kalteng,” ujarnya pada Minggu, 14 September 2025.

Namun, di tengah peningkatan aktivitas kapal, jumlah penumpang angkutan laut justru mengalami penurunan sebesar 13,57 persen. Penurunan ini berasal dari penumpang datang yang turun 17,43 persen dan penumpang berangkat yang turun 7,52 persen. Menurut Agnes, penurunan jumlah penumpang bisa dipengaruhi oleh pergeseran preferensi moda transportasi atau faktor musiman.

“Meski frekuensi kapal meningkat, mobilitas penumpang tidak selalu sejalan, karena ada banyak faktor yang memengaruhi keputusan perjalanan,” jelasnya.

Di sisi lain, volume arus barang melalui pelabuhan laut mengalami lonjakan signifikan sebesar 56,93 persen. Peningkatan ini didorong oleh naiknya volume muat barang sebesar 66,50 persen dan volume bongkar barang sebesar 29,26 persen.

“Kenaikan ini menunjukkan bahwa pelabuhan di Kalimantan Tengah semakin berperan penting dalam rantai pasok regional maupun nasional,” kata Agnes.

Ia menambahkan bahwa pertumbuhan ini menjadi indikator positif bagi sektor perdagangan dan industri lokal.

Pelabuhan Kumai dan Pelabuhan Sampit tetap menjadi pusat utama aktivitas angkutan laut di Kalimantan Tengah. Dari total 45.181 penumpang yang datang dan berangkat selama Juli 2025, sebanyak 74,42 persen melalui Pelabuhan Kumai dan 25,58 persen melalui Pelabuhan Sampit.

“Dominasi Pelabuhan Kumai dalam layanan penumpang menunjukkan peran strategisnya sebagai gerbang utama mobilitas masyarakat,” ungkap Agnes.

Sementara itu, untuk arus barang yang mencapai 2,46 juta ton, Pelabuhan Sampit menjadi yang paling sibuk dengan kontribusi sebesar 56,79 persen, disusul Pelabuhan Kumai sebesar 33,14 persen. Sisanya didistribusikan melalui pelabuhan lainnya di wilayah Kalimantan Tengah.

“Distribusi ini mencerminkan spesialisasi fungsi pelabuhan, di mana Sampit lebih dominan dalam logistik barang, sedangkan Kumai unggul dalam layanan penumpang,” terang Kepala BPS Kalteng.

Agnes Widiastuti menegaskan bahwa data ini menjadi dasar penting bagi pemerintah daerah dan pelaku usaha dalam merumuskan kebijakan transportasi dan logistik yang lebih efisien.

“Kami berharap informasi ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pelayanan pelabuhan, memperkuat konektivitas antarwilayah, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” tuturnya. (TESTI PRISCILLA/j)