BORNEONEWS, Palangka Raya - Dua pelabuhan utama di Kalimantan Tengah, yakni Pelabuhan Kumai dan Pelabuhan Sampit, kembali menunjukkan dominasinya dalam layanan angkutan laut selama Juli 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, sebanyak 74,42 persen dari total 45.181 penumpang yang datang dan berangkat melalui jalur laut, dilayani oleh Pelabuhan Kumai. Sementara itu, Pelabuhan Sampit melayani 25,58 persen sisanya.
“Kumai tetap menjadi pelabuhan utama untuk mobilitas masyarakat, terutama karena aksesibilitas dan konektivitasnya yang tinggi,” ujar Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti pada Minggu, 14 September 2025.
Meski Pelabuhan Kumai unggul dalam layanan penumpang, dominasi arus barang justru dipegang oleh Pelabuhan Sampit. Dari total volume barang sebesar 2,46 juta ton yang tercatat selama Juli 2025, sebanyak 56,79 persen diantaranya melalui Pelabuhan Sampit. Pelabuhan Kumai menyusul dengan kontribusi sebesar 33,14 persen, sementara sisanya didistribusikan melalui pelabuhan lain seperti Pulang Pisau dan pelabuhan kecil lainnya.
“Distribusi ini menunjukkan perbedaan fungsi dan spesialisasi antar pelabuhan,” jelas Agnes.
Pelabuhan Sampit mencatat volume muat barang sebesar 1,18 juta ton dan bongkar barang sebesar 220 ribu ton, menjadikannya pusat logistik laut paling aktif di provinsi tersebut. Sementara Pelabuhan Kumai mencatat volume muat barang sebesar 638 ribu ton dan bongkar barang sebesar 178 ribu ton. Menurut Agnes, tingginya aktivitas muat barang di Sampit menunjukkan peran strategisnya dalam mendukung sektor perdagangan dan industri lokal.
Di sisi lain, Pelabuhan Kumai tetap menjadi pilihan utama masyarakat untuk perjalanan laut, baik untuk tujuan ekonomi maupun sosial. Dengan jumlah penumpang datang sebanyak 20.044 orang dan penumpang berangkat sebanyak 13.579 orang, pelabuhan ini menjadi simpul penting dalam mobilitas antardaerah.
“Kumai bukan hanya pelabuhan, tapi juga pintu gerbang interaksi sosial dan ekonomi masyarakat pesisir,” tambah Agnes.
Pelabuhan-pelabuhan lain seperti Pulang Pisau dan pelabuhan kecil lainnya turut berkontribusi dalam arus barang, meski dalam skala yang lebih kecil. Pulang Pisau mencatat volume barang sebesar 204.700 ton, sementara pelabuhan lainnya menyumbang sekitar 43.568 ton.
“Keberadaan pelabuhan-pelabuhan ini tetap penting sebagai pelengkap distribusi, terutama untuk wilayah terpencil,” ujar Kepala BPS.
Agnes Widiastuti menekankan bahwa data ini menjadi landasan penting bagi pengembangan infrastruktur maritim di Kalimantan Tengah.
“Dengan memahami pola dominasi dan distribusi, pemerintah daerah dapat merancang strategi penguatan pelabuhan sesuai dengan karakteristik dan potensi masing-masing,” tutupnya.
Ia berharap sinergi antar pelabuhan dapat terus ditingkatkan demi mendukung pertumbuhan ekonomi dan konektivitas wilayah. (TESTI PRISCILLA/j)









