BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP turut ambil bagian dalam gelaran Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) 2025 yang berlangsung di ICE BSD City, Tangerang Selatan. Dalam ajang bergengsi ini, BPDP menghadirkan booth pameran edukatif yang menyajikan informasi komprehensif mengenai program pendanaan perkebunan berkelanjutan, termasuk Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), riset, dan pengembangan sumber daya manusia. Kehadiran BPDP menjadi sorotan tersendiri di tengah upaya nasional mendorong sektor sawit yang ramah lingkungan dan bernilai tambah.
Sorotan utama terjadi pada hari pertama pameran ketika Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyempatkan diri mengunjungi booth BPDP. Dalam kunjungan tersebut, Presiden menerima penjelasan mengenai produk batik berbahan lilin sawit—sebuah inovasi yang memadukan aspek lingkungan, seni, dan ekonomi. Kehadiran Presiden tidak hanya meningkatkan visibilitas BPDP, tetapi juga memperkuat peran lembaga ini sebagai aktor strategis dalam pengembangan industri sawit berkelanjutan.
Kepala Divisi Kerja Sama, Kemasyarakatan, dan UMKM BPDP, Helmi Muhansah mengatakan bahwa booth BPDP juga menghadirkan Pojok PSR, sebuah ruang konsultasi yang dirancang untuk memberikan informasi langsung kepada pengunjung dan perwakilan pemerintah daerah mengenai mekanisme dan manfaat program PSR. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya diskusi yang berlangsung, mencakup persyaratan pengajuan, proses verifikasi, hingga strategi percepatan realisasi PSR di berbagai wilayah. Kehadiran Pojok PSR menjadi bukti komitmen BPDP dalam mendekatkan layanan kepada pemangku kepentingan di daerah.
Menambah daya tarik pameran, BPDP berkolaborasi dengan Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) Yogyakarta untuk menampilkan produk inovatif berbahan dasar sawit, seperti sabun dan aromaterapi.
“Produk-produk ini menarik perhatian pengunjung yang baru mengetahui potensi sawit sebagai bahan baku barang kebutuhan sehari-hari. Kolaborasi ini mencerminkan sinergi antara lembaga pengelola dana dan dunia akademik dalam menghasilkan inovasi yang aplikatif dan bernilai ekonomi,“ tutur Helmi pada Minggu, 14 September 2025.
Selama tiga hari pelaksanaan, booth BPDP dipadati pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari pemerintah daerah, akademisi, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
“Materi publikasi seperti booklet, standing banner, video edukasi, dan produk sawit inovatif memperkaya pemahaman publik bahwa sawit memiliki potensi lebih dari sekadar minyak goreng,“ tuturnya.
Di penghujung acara, BPDP dianugerahi predikat Booth Kategori Inovatif, menandai keberhasilan mereka dalam menyampaikan pesan edukatif dan inspiratif.
Partisipasi BPDP dalam APKASI 2025 menjadi langkah strategis dalam memperkuat jejaring kelembagaan, memperluas pemahaman publik tentang sawit berkelanjutan, serta menegaskan kontribusi dana perkebunan dalam pembangunan nasional yang inklusif dan berkelanjutan. Melalui pendekatan edukatif dan kolaboratif, BPDP menunjukkan bahwa pengelolaan dana perkebunan dapat menjadi motor penggerak inovasi, pemberdayaan, dan kemajuan sektor agribisnis Indonesia.(TESTI PRISCILLA/y)









