BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kampung Cucuk Hatap di Kelurahan Kumai Hulu, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) merupakan penghasil kerajinan atap daun nipah. Namun potret kehidupan para pengrajin yang banyak di geluti kaum lansia ini kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.

Walau digempur oleh produk pabrikan seperti atap seng dan asbes, pengrajin atap daun nipah masih mampu bertahan, sebabnya mereka mempunyai segmen tersendir,i baik untuk atap kandang ternak ataupun untuk pembuatan bangunan sementara pekerja proyek.

Salah satunya Acil Imah, ia yang sudah menggeluti usaha pembuatan atap daun nipah sejak puluhan tahun ini mampu bertahan di tengah gempuran produk pabrikan, walau terseok-seok dalam menjalankan bisnis keluarga ia optimis dengan prospek usahanya. Namun dengan catatan ada keterlibatan pemerintah atau swasta dalam mendorong usahanya. 

"Banyak kendala yang kami hadapi dalam menjalankan usaha ini tetapi selama ini tidak ada perhatian dari pemerintah daerah untuk mendorong usaha kami," kata Acil Imah di lapak usahanya, di samping Pelabuhan Panglima Utar, Kumai, Selasa (8/11/2016).

Keluhan terkait dengan beberapa hal di antaranya adalah persoalan suntikan modal. Selama ini pihaknya sulit mendapatkan modal untuk pengembangan usahanya, termasuk dari pihak perbankan. Selain itu ia juga meminta agar difasilitasi tempat usaha yang layak agar produktifitas dan kualitas juga membaik. Selama ini mereka hanya bekerja di tenpat terbuka beralaskan papan.

"Tempat usaha kami bisa dilihat sendiri bagaimana kondisinya. Kalau ada fasilitas yang baik tentu akan berimbas pada produktifitas dan kualitas yang dihasilkan," keluh dia.

Menurut dia, ada satu rantai distribusi yang harus diputus oleh pemerintah, yakni keberadaan tengkulak yang dinilai merugikan mereka. Namun karena keterbatasan segmen pasar sehingga mereka tidak bisa berbuat apa-apa, persoalan pemasaran menjadi salah satu yang ia minta untuk diperhatikan demi kelancaran usahanya.

"Pemasaran yang baik tentu akan memutus rantai tengkulak jadi kami minta tolong agar hal ini menjadi perhatian serius," tutup dia.

Mensikapi keluhan dari pengrajin hatap daun nipah di Kumai Hulu, Calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kotawaringin Barat, Hj.Nurhidayah mengatakan bahwa pasangan Nurani akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi mikro kecil dan menengah (UMKM).

Ia memandang pertumbuhan ekonomi riil sangat penting apalagi dengan kondisi ekonomi yang kurang baik sehingga peningkatan UMKM dengan cara menyuntikan modal dengan bunga lunak melalui Bank Perkreditan Rakyat (BPR) merupakan cara guna penguatan dakam mendorong ekonomi kerakyatan.

"Seperti kita ketahui, Kecamatan Kumai merupakan gerbang perekonomian dengan adanya pelabuhan sehingga perlu upaya agar pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan oleh UMKM," kata Hj. Nurhidayah saat menyambangi pengrajin atap nipah di Kumai Hulu, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kobar, Selasa (8/11/2016). 

Untuk itu salah satu komponen yang paling penting dan mutlak harus diperhatikan adalah memberikan bantuan modal sehingga usaha mereka bisa terus berjalan. 

"Saat ini kami sudah ada pola bagaimana mengembangkan UMKM sehingga UMKM dapat tumbuh dengan baik, pemerintah ada dana untuk itu tetapi harus tepat sasaran," tutup Hj. Nurhidayah yang didampingi H Ruslan AS. (KOKO SULISTYO/m)