SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Petani padi di Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur terancam gagal panen akibat banjir yang terjadi usai hujan deras semalaman.

Kepala Desa Lampuyang, Muksin mengatakan banjir membuat petani yang seharusnya sudah mulai memanen padi terpaksa menunda.

“Banjir ini terjadi akibat hujan semalaman. Petani yang rencana mau panen akhirnya menunggu air surut. Untungnya tidak sampai tinggi merendam tanaman,” ujar Muksin, Selasa, 16 September 2025.

Muksin menjelaskan, banjir ini jelas mempengaruhi hasil panen. Ia mengingat kondisi banjir pada tahun 2021 atau 2022, ketika tanaman padi tenggelam dan menyebabkan gagal panen.

“Semoga kejadian itu tidak terulang lagi. Kalau dalam 2–3 hari ke depan tidak hujan dan banjir surut, mereka bisa panen,” ujarnya.

Ia menambahkan, sebagian besar masyarakat Desa Lampuyang menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Bahkan sekitar 90 persen warga berprofesi sebagai petani.

Muksin menyebut, pemerintah saat ini tengah melaksanakan perbaikan drainase yang melibatkan kabupaten, provinsi, hingga pemerintah pusat. Namun, kendala terbesar adalah pembuatan sodetan di muara Sungai Lampuyang agar aliran air lebih lancar menuju laut.

“Untuk membuat sodetan masih terkendala izin karena lokasinya berada di wilayah hutan lindung. Jadi harus ada izin dari Kementerian Kehutanan. Bulan Juni lalu sudah kita usulkan, dan saat ini masih menunggu SK perizinan dari kementerian,” pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/R)