BORNEONEWS, Sampit - Sejumlah sekolah di Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terdampak banjir akibat hujan deras mengguyur wilayah setempat.
"Ada 3 sekolah yang terdampak banjir. SDN Kunjung lampuyang, SDN 1 Lampuyang dan SDN 3 Lempuyang," kata Kepala Desa Lampuyang Muksin, Selasa, 16 September 2025.
Banjir tersebut terjadi akibat hujan deras semalaman melanda di Desa Lampuyang. Bahkan dalam beberapa hari terakhir hujan pun kerap turun.
Tampak dalam foto yang dibagikan, halaman SDN Kunjung Lampuyang tergenang banjir. Meski demikian anak-anak masih menjalankan aktivitas belajar karena banjir tidak sampai masuk ruang kelas.
Muksin menyebut, banjir sesuatu yang sudah biasa terjadi di Desa Lampuyang. Setiap musim hujan, wilayah tersebut menjadi langganan banjir. Beruntung wilayah permukiman tidak sampai terdampak.
"Wilayah permukiman alhamdulillah aman," imbuhnya.
Selain sekolah, areal persawahan juga tergenang banjir. Kondisi itu membuat petani yang seharusnya sudah mulai memanen padi terpaksa menunda.
“Petani yang rencana mau panen akhirnya menunggu air surut. Untungnya tidak sampai tinggi merendam tanaman,” ucapnya.
Muksin menjelaskan, banjir ini jelas mempengaruhi hasil panen. Ia mengingat kondisi banjir pada tahun 2021 atau 2022, ketika tanaman padi tenggelam dan menyebabkan gagal panen.
“Semoga kejadian itu tidak terulang lagi. Kalau dalam 2–3 hari ke depan tidak hujan dan banjir surut, mereka bisa panen,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebagian besar masyarakat Desa Lampuyang menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Bahkan sekitar 90 persen warga berprofesi sebagai petani.
Muksin menyebut, pemerintah saat ini tengah melaksanakan perbaikan drainase yang melibatkan kabupaten, provinsi, hingga pemerintah pusat. Namun, kendala terbesar adalah pembuatan sodetan di muara Sungai Lampuyang agar aliran air lebih lancar menuju laut.
“Untuk membuat sodetan masih terkendala izin karena lokasinya berada di wilayah hutan lindung. Jadi harus ada izin dari Kementerian Kehutanan. Bulan Juni lalu sudah kita usulkan, dan saat ini masih menunggu SK perizinan dari kementerian,” pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









