PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kota Palangka Raya mencatatkan prestasi sebagai daerah dengan jumlah investor dan nilai aset pasar modal tertinggi di Kalimantan Tengah. Berdasarkan data terbaru dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), ibu kota provinsi ini menempati peringkat pertama dengan total 27.953 investor dan nilai aset mencapai Rp 1,179 triliun.

Angka tersebut menjadikan Palangka Raya sebagai motor utama pertumbuhan pasar modal di wilayah Kalteng.

Secara keseluruhan, Kalimantan Tengah menempati urutan ke-23 dari 38 provinsi dalam jumlah investor pasar modal secara nasional. Total investor di provinsi ini mencapai 130.295 orang dengan nilai aset sebesar Rp 5,67 triliun. Pertumbuhan investor sebesar 5,76 persen menjadi indikator positif bahwa minat masyarakat terhadap investasi terus meningkat, seiring dengan upaya edukasi dan sosialisasi yang dilakukan oleh berbagai pihak.

Dalam kegiatan Media Gathering yang digelar oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan Indonesia Securities Investor Protection Fund (Indonesia SIPF) pada Rabu, 17 September 2025, Ruth selaku pembicara menyampaikan bahwa dominasi investor muda menjadi ciri khas perkembangan pasar modal di Kalteng. Gen Z dan Milenial mencakup 86,16 persen dari total investor, menunjukkan bahwa digitalisasi telah membuka akses luas bagi generasi muda untuk berinvestasi.

Ruth juga mengungkapkan bahwa dari sisi gender, investor laki-laki masih mendominasi dengan persentase 66,92 persen, sementara perempuan mencakup 33,07 persen. Meski demikian, tren partisipasi perempuan terus meningkat berkat kampanye inklusi keuangan yang menyasar seluruh lapisan masyarakat. Dari sisi pekerjaan, investor terbanyak berasal dari kalangan pegawai (35,46 persen) dan pelajar (27,51 persen), menandakan bahwa pasar modal mulai menjadi pilihan investasi yang relevan bagi berbagai kelompok usia dan profesi.

Kepala Kantor Perwakilan BEI Provinsi Kalimantan Tengah, Stephanus Cahyo Adiraja, menegaskan bahwa kegiatan Media Gathering ini bertujuan untuk memperkenalkan lebih dalam peran dan fungsi SRO serta Indonesia SIPF, khususnya dalam hal perlindungan kepada investor.

“Kegiatan hari ini merupakan forum silaturahmi dari SRO (BEI-KPEI-KSEI) dan Indonesia SIPF kepada rekan-rekan media, khususnya mengenai peran dan fungsi dari SRO serta ISIPF dalam hal perlindungan kepada investor dalam bertransaksi produk-produk pasar modal,” ujarnya.

Dengan capaian Palangka Raya sebagai pusat pertumbuhan investor di Kalimantan Tengah, para pemangku kepentingan pasar modal berharap dapat terus memperkuat literasi keuangan, perlindungan investor, dan akses yang inklusif. Data ini menjadi landasan penting untuk mendorong pembangunan ekosistem investasi yang sehat, transparan, dan berkelanjutan di wilayah Kalteng. (TESTI PRISCILLA/H)