BORNEONEWS, Sampit – Suasana belajar di SDN 1 Tumbang Tilap, Kecamatan Bukit Santuai, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), tidak pernah lepas dari ancaman banjir. Baru kemarin, Rabu,17 September 2025, anak-anak kembali menjalani pembelajaran tatap muka setelah sebelumnya terpaksa belajar dari rumah karena banjir yang merendam sekolah mereka.
“Kalau musim hujan, pasti banjir. Dalam setahun bisa 4 sampai 5 kali. Tahun ini saja sudah tiga kali sejak Agustus,” kata Kepala Sekolah SDN 1 Tumbang Tilap Fitriyani, Kamis, 18 September 2025.
Letak Desa Tumbang Tilap berada di dataran paling rendah se-Kecamatan Bukit Santuai. Setiap kali hujan deras turun di hulu selama 2-3 hari, banjir hampir dipastikan akan datang. Bedanya, bila banjir di hulu hanya bertahan sehari-dua hari, di Tumbang Tilap bisa sampai 4-5 hari.
“Yang terakhir itu banjir tanggal 10-11 September kami masih belajar tatap muka meski air sudah selutut orang dewasa. Setelah itu 12-16 September terpaksa belajar dari rumah karena air makin dalam,” ujarnya.
Kondisi banjir ini berdampak besar pada kegiatan belajar mengajar. Orang tua sering melarang anaknya ke sekolah karena khawatir banjir yang rata-rata terjadi hingga sepinggang orang dewasa. Akibatnya, aktivitas belajar tak maksimal.
“Tanaman yang kami buat tidak pernah awet karena selalu terendam. Tanah halaman sekolah juga cepat rusak terkikis air, begitu pula lantai bangunan sekolah yang terbuat dari kayu cepat lapuk,” imbuhnya.
SDN 1 Tumbang Tilap memiliki 6 rombongan belajar (rombel) dengan fasilitas terbatas. Hanya ada 3 ruang kelas dari bangunan kayu sehingga pihak sekolah terpaksa memanfaatkan satu unit perumahan guru untuk ruang kelas 1 dan 5, sementara bangunan bekas WC bantuan PNPM direhab menjadi ruang kelas 6. Bahkan perpustakaan harus difungsikan sebagai kantor guru.
Meski sudah lama menginginkan relokasi ke tempat yang lebih tinggi, langkah itu belum bisa diwujudkan. Tahun 2018 sempat ada wacana relokasi dengan bantuan perusahaan sekitar, tetapi ditolak masyarakat.
“Masyarakat menolak karena tanah yang cukup tinggi lokasinya sekitar 1 km dari kampung. Mereka khawatir anak-anak jadi jauh sekolahnya. Padahal relokasi itu sangat kami harapkan,” tutur Fitriyani.
Kendala bukan hanya dialami siswa, tapi juga guru. Mayoritas tenaga pengajar berasal dari Sampit dan tinggal di Kuala Kuayan, berjarak sekitar 5-6 km dari sekolah. Hanya tiga guru yang benar-benar menetap di desa.
“Kalau banjir, guru-guru harus jalan kaki sekitar 2 km di air untuk sampai ke sekolah,” tandasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









