BORNEONEWS, Tamiang Layang – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Barito Timur resmi meluncurkan Bank Sampah Unit (BSU) Nyimpun Urai, Kamis, 18 September 2025.
Kehadiran bank sampah ini diharapkan mampu mengubah paradigma masyarakat bahwa sampah bukan sekadar limbah, melainkan sumber penghasilan dan kesejahteraan bersama.
Kepala DLH Barito Timur, Mishael, mengatakan BSU Nyimpun Urai tidak hanya berfungsi sebagai tempat menabung sampah dengan imbalan rupiah, tetapi juga sebagai pusat edukasi tentang pentingnya memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah tangga.
“Dengan adanya Bank Sampah ini, kami ingin memberikan contoh nyata bahwa sampah bisa bernilai ekonomi sekaligus membawa manfaat lingkungan. Moto kami sederhana, ‘Urai pun tau jari duit, lingkungan berseri, sampahpun jadi rejeki’,” ujar Mishael.
Kegiatan operasional bank sampah dilakukan rutin setiap hari Kamis pukul 09.00–15.00 WIB. Warga yang menyetor sampah akan menerima tabungan rupiah sesuai jenis dan berat sampah. Harga yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari plastik, kertas, kardus, logam, hingga barang rumah tangga bekas yang masih memiliki nilai jual.
Selain keuntungan finansial, program ini juga ditujukan untuk mengurangi jumlah sampah yang tidak terurai, menekan volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), serta meningkatkan daur ulang.
“Kami ingin masyarakat lebih sadar bahwa pengelolaan sampah bukan hanya soal kebersihan, tapi juga kesejahteraan bersama. Dengan memilah dari sumbernya, kita bisa menciptakan lingkungan sehat sekaligus menambah penghasilan,” jelas Mishael.
BSU Nyimpun Urai juga memiliki visi meningkatkan kesadaran kolektif dalam pengelolaan sampah menuju kesejahteraan. Misi yang dijalankan mencakup pengurangan timbulan sampah, pengolahan organik menjadi kompos, peningkatan partisipasi masyarakat, hingga penciptaan lapangan kerja dan tambahan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Untuk menarik minat masyarakat, BSU Nyimpun Urai menetapkan harga beli yang kompetitif. Misalnya, aluminium panci dihargai Rp8.000 per kilogram, aki bekas Rp8.000 per kilogram, tembaga kulkas bekas mencapai Rp60.000 per kilogram, botol minyak goreng Rp2.000 per kilogram, aqua gelas Rp2.500 per kilogram, hingga kardus Rp1.000 per kilogram.
“Kalau kita bersama-sama bergerak, sampah yang selama ini dianggap masalah bisa menjadi peluang rejeki dan sumber manfaat,” tutup Mishael. (AGUSTINUS BOLE MALO/H)









