BORNEONEWS, Katingan – Daun sungkai, tanaman khas Kalimantan yang dikenal luas sebagai obat tradisional, ternyata juga dimanfaatkan masyarakat Dayak sebagai penyedap rasa alami dalam makanan.
Hal ini diungkapkan oleh Helipusanti, warga Kelurahan Tumbang Sanamang, Kecamatan Katingan Hulu, Kabupaten Katingan.
Menurut Helipusanti, daun sungkai tidak hanya berkhasiat untuk menjaga kesehatan tubuh, tetapi juga memberikan cita rasa tersendiri ketika dicampurkan ke dalam masakan.
“Orang Dayak sudah lama menggunakan daun sungkai, bukan hanya untuk obat, tapi juga sebagai penyedap rasa alami. Rasanya khas, sedikit pahit tapi membuat masakan lebih nikmat,” jelasnya, Jumat, 19 September 2025.
Ia menyebut penggunaan daun sungkai biasanya dilakukan dalam masakan tradisional, seperti sayur rebus, lauk pauk berkuah, hingga olahan ikan sungai. Selain memberi rasa unik, masyarakat percaya daun ini juga sekaligus menjaga stamina tubuh.
“Kalau di kampung, daun sungkai sering dipakai untuk masakan sehari-hari. Jadi, selain makan enak, badan juga terasa lebih segar,” tambahnya.
Ia menilai pemanfaatan daun sungkai sebagai penyedap rasa merupakan kearifan lokal yang sudah diwariskan turun-temurun. Bahkan, sebagian menyebut daun ini sebagai “micin alami orang Dayak” karena perannya yang mirip bumbu penyedap.
Selain sebagai bumbu dapur, daun sungkai juga kerap direbus untuk diminum airnya atau dijadikan ramuan herbal saat tubuh merasa tidak enak badan.
Dengan begitu, fungsi tanaman ini benar-benar melekat dalam kehidupan masyarakat Dayak, baik untuk kesehatan maupun kebutuhan sehari-hari.
Helipusanti berharap kearifan lokal ini tetap dilestarikan dan dikenalkan kepada generasi muda. “Jangan sampai hilang. Daun sungkai ini bagian dari identitas kita sebagai orang Dayak.
Anak-anak sekarang harus tahu bahwa dari alam kita punya banyak sumber kebaikan, salah satunya sungkai,” ujarnya. (MARINI/R)









