SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Harga emas diprediksi akan terus mengalami kenaikan signifikan, dipicu oleh ekspektasi penurunan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika (The Fed). Hal ini diungkapkan oleh Darsani, pemilik Toko Emas Mitra Baru di Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit, yang menyoroti potensi peralihan investasi dari dolar ke emas.

"Karena kalau turun, orang banyak lari ke emas. Kalau bunga dolar itu turun orang tidak terlalu mau menyimpan uang di dolar, lebih menyimpan di emas, ada harapan naik walaupun tidak berbunga. Kalau menyimpan emas itu tidak berbunga, cuman kalau naik bisa naik banyak. Kalau di dolar berharap bunga," jelas Darsani, Jumat, 19 September 2025. 

Darsani menambahkan, data pasar spot global menunjukkan harga emas sempat menyentuh US$ 3.680 per troy ounce pada Selasa (16/9), didorong ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan pelemahan dolar AS. Ia bahkan memprediksi harga emas global bisa menembus US$ 4.000 per ons.

“Tahun sebelumnya tidak pernah sampai setinggi ini. Tahun 2026 kemungkinan bisa mencapai Rp 2 juta. Tapi ini tergantung bank ekonomi dunia, kalau Amerika menentukan suku bunga, maka emas akan bereaksi. Kita cuman mengikuti saja, kalau naik ya naik, turun ya turun. Tidak bisa kita melawan pasar,” ungkapnya.

Meski demikian, Darsani mencatat bahwa emas 99 tetap menjadi incaran utama para investor. "Kalau penjualan emas aman saja. Emas naik ini malah orang banyak yang mencari, apalagi emas 99, mereka takut emas naik lagi," tandasnya.

Berikut adalah daftar harga emas baru-baru  ini, untuk emas 999 Rp 1.920.000. Emas kadar 750 atau setara 17 karat Rp 1.570.000. Emas 700 setara 16 karat Rp 1.470.000. Emas 420 setara 9 karat Rp 990.000. Emas 375 setara 8 karat Rp 870.000.

Kenaikan harga emas ini menjadi perhatian para investor dan masyarakat umum, yang melihat emas sebagai aset investasi yang aman di tengah ketidakpastian ekonomi global. (DEVIANA/j)