PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Dalam Pelatihan Jurnalistik dan Videografer yang digelar oleh Komsos Keuskupan Palangka Raya pada 19–20 September 2025 di Aula Magna Keuskupan Palangka Raya, Konsultan Media, Abdi Susanto memberikan pembekalan kepada peserta mengenai teknik menghimpun data yang akurat dan mengolahnya menjadi berita yang dapat dipertanggungjawabkan. Pelatihan ini menekankan pentingnya validitas informasi sebagai fondasi utama dalam dunia jurnalistik, terutama di era banjir data dan maraknya hoaks.

Abdi menjelaskan bahwa proses pencarian data tidak cukup hanya mengandalkan satu sumber. Ia mendorong peserta untuk melakukan verifikasi silang dari berbagai kanal informasi, seperti situs resmi, laporan lembaga terpercaya, dan wawancara langsung.

“Berita yang baik bukan hanya menarik, tapi juga benar. Validitas adalah nyawa dari sebuah tulisan jurnalistik,” tegasnya di hadapan 200 peserta dari berbagai Paroki di wilayah Keuskupan Palangka Raya.

Salah satu pendekatan inovatif yang diperkenalkan Abdi adalah pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGPT, Gemini, dan lainnya. Ia menunjukkan bagaimana AI dapat membantu menyusun struktur berita, menyarankan sudut pandang, hingga merapikan gaya bahasa. Namun, ia menekankan bahwa teknologi hanyalah alat bantu, bukan pengganti nalar kritis dan etika jurnalistik.

“ChatGPT bisa membantu, tapi keputusan akhir tetap di tangan manusia,” ujarnya.

Dalam sesi praktik, peserta diminta untuk menghimpun data dari berbagai sumber tentang isu lokal, lalu mengolahnya menjadi naskah berita dengan bantuan ChatGPT. Hasilnya cukup mengesankan—sebagian besar peserta mampu menyusun berita yang informatif dan terstruktur dengan baik. Abdi memuji kreativitas peserta, namun tetap mengingatkan agar tidak terjebak pada kemudahan teknologi tanpa menguji kebenaran data.

"Saya mengajarkan ini bukan supaya kalian malas tetapi membantu mempercepat pekerjaan. Tapi tetap harus kalian cek lagi ya, kita tidak bisa percaya 100 persen dengan buatan ChatGPT, harus tetap disesuaikan dengan data yang sudah kita kumpulkan," jelasnya lagi.

Pelatihan ini mendapat respons positif dari peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa hingga pegiat komunitas. Mereka mengaku mendapatkan wawasan baru tentang bagaimana teknologi bisa menjadi mitra dalam menulis, bukan ancaman.

“Saya jadi lebih percaya diri menulis berita, karena tahu cara mencari data yang benar dan memanfaatkan AI secara bijak,” ujar Tanto, salah satu peserta.

Dengan pelatihan ini, Abdi berharap lahir generasi penulis yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga menjunjung tinggi integritas informasi.

“Di tengah derasnya informasi, tugas kita adalah menjadi penjaga kebenaran. Dan teknologi, jika digunakan dengan bijak, bisa menjadi sekutu yang luar biasa,” kata Abdi menutup sesi dengan pesan kuat. (TESTI PRISCILLA/Y)