BORNEONEWS, Palangka Raya – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Palangka Raya kembali menjadi sorotan. Anggota DPRD Kota Palangka Raya, Rana Muthia Oktari, menegaskan bahwa menu yang disajikan dalam program ini harus sesuai standar gizi dan tidak boleh mengandung olahan makanan instan.
Menurut Rana, program MBG sejatinya bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak, khususnya pelajar. Namun di lapangan, ia mengaku menemukan adanya menu yang masih bergantung pada makanan instan yang justru berpotensi merugikan kesehatan.
"Kalau tujuannya meningkatkan gizi, maka jangan sampai anak-anak malah diberi menu yang kandungan gizinya rendah atau tinggi bahan pengawet," katanya, Sabtu, 20 September 2025.
Ia mengingatkan bahwa pemerintah harus benar-benar memastikan setiap makanan yang masuk dalam program ini memenuhi standar gizi seimbang: karbohidrat, protein, sayuran, buah, dan sumber vitamin. Bukan sekadar mengenyangkan perut, melainkan juga mendukung tumbuh kembang anak.
Politisi ini menilai, kelemahan utama dari program MBG adalah minimnya pengawasan terhadap penyedia jasa katering maupun sekolah yang menjadi penyalur.
"Selama ini, seakan hanya mengejar distribusi cepat, tapi kualitas menu belum benar-benar dikontrol ketat. Padahal ini menyangkut kesehatan generasi penerus," tegasnya.
Rana menambahkan, ada banyak sumber pangan lokal yang bisa diolah sebagai menu sehat, mulai dari ikan sungai, sayur mayur, hingga olahan singkong dan ubi yang bergizi. Dengan menggandeng petani maupun UMKM lokal, pemerintah sekaligus bisa mendukung ekonomi masyarakat.
Lebih jauh, ia menyoroti kasus keracunan makanan yang terjadi di beberapa daerah akibat program serupa. Hal ini, kata Rana, harus menjadi pelajaran agar Kota Palangka Raya tidak mengulangi kesalahan yang sama.
"Kita harus belajar dari peristiwa yang terjadi di luar daerah. Jangan sampai program yang tujuannya mulia justru jadi bumerang karena kelalaian," ucapnya.
Rana pun mendesak agar Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan bekerja sama dalam melakukan uji kelayakan gizi serta pengawasan rutin terhadap menu MBG. Ia menegaskan, laporan masyarakat mengenai kualitas makanan harus segera ditindaklanjuti, bukan diabaikan.
"Ini soal masa depan anak-anak kita. Jangan hanya berhenti pada klaim keberhasilan program di atas kertas. Yang kita butuhkan adalah bukti nyata bahwa MBG benar-benar menyehatkan, bukan sekadar memberi makan," pungkasnya. (MARINI/H)









