BORNEONEWS, Palangka Raya – Anggota DPRD Palangka Raya, Sigit Widodo, menegaskan bahwa persoalan kemiskinan di daerah ini harus ditangani secara serius dan menyeluruh.
Menurutnya, upaya mengurangi angka kemiskinan tidak cukup hanya dengan program bantuan sosial, tetapi harus dibarengi dengan penciptaan lapangan kerja yang nyata serta peningkatan kualitas pendidikan.
Sigit menilai, salah satu akar masalah kemiskinan di Palangka Raya adalah minimnya kesempatan kerja yang sesuai dengan kemampuan masyarakat lokal. Banyak lulusan sekolah hingga perguruan tinggi yang akhirnya menganggur karena kurangnya lapangan pekerjaan yang bisa menampung mereka.
“Kita tidak boleh membiarkan ada sarjana atau lulusan sekolah yang terpaksa menganggur. Pemerintah harus membuka ruang kerja yang layak,” tegasnya, Sabtu, 20 September 2025.
Politisi PDIP ini mengingatkan bahwa pengangguran terdidik menjadi potret kegagalan pembangunan sumber daya manusia.
“Kalau ada orang yang sudah sekolah atau kuliah tapi tidak bisa bekerja, artinya ada yang salah dalam sistem kita. Pendidikan harus link and match dengan kebutuhan dunia kerja,” ujarnya.
Sigit juga mendorong pemerintah kota untuk memperkuat sektor-sektor produktif seperti pertanian, perikanan, UMKM, dan industri kreatif. Dengan pemberdayaan ekonomi lokal, masyarakat tidak hanya bergantung pada lapangan kerja formal, tetapi juga memiliki peluang usaha mandiri yang berkelanjutan.
Ia menilai, program pemberdayaan yang ada selama ini masih bersifat sporadis dan belum menyentuh akar masalah. Banyak program berhenti di tahap pelatihan tanpa tindak lanjut nyata berupa akses modal maupun pasar.
“Kita butuh program yang berdampak langsung, bukan sekadar pelatihan seremonial,” katanya.
Selain itu, Sigit menekankan pentingnya peran pemerintah dalam memberikan insentif kepada investor yang mau membuka lapangan kerja di Palangka Raya. Namun ia mengingatkan agar investasi yang masuk tetap memperhatikan kepentingan tenaga kerja lokal.
“Jangan sampai investor hanya membawa pekerja dari luar, sementara masyarakat kita hanya jadi penonton,” tegasnya.
Menurutnya, mengatasi kemiskinan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan kolaborasi dengan swasta, lembaga pendidikan, serta masyarakat.
“Semua harus bergerak bersama. Pemerintah menyediakan regulasi dan fasilitas, perguruan tinggi menyiapkan SDM, dan dunia usaha menciptakan lapangan kerja,” ujarnya.
Sigit menutup dengan peringatan keras bahwa jika masalah kemiskinan dan pengangguran tidak segera ditangani, maka akan menimbulkan persoalan sosial baru.
“Kemiskinan itu bukan hanya soal ekonomi, tapi juga bisa memicu kriminalitas, masalah kesehatan, hingga merusak masa depan generasi muda kita,” pungkasnya. (MARINI/H)









