BORNEONEWS, Pulang Pisau – Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Pulang Pisau (Pulpis) mengungkap faktor utama penyebab naiknya harga beras di pasaran dalam beberapa waktu terakhir.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Paridah Ernawati melalui Kepala Bidang Distribusi dan Cadangan Pangan Rony Eka Candra menjelaskan, berdasarkan informasi dari sejumlah petani lokal, panen tahun ini tidak berjalan maksimal sehingga memicu lonjakan harga beras.
“Informasi dari beberapa petani yang menanam beras lokal, panen kali ini kurang maksimal sehingga menjadi pemicu naiknya harga beras,” kata Rony, Minggu, 21 September 2025.
Rony menambahkan, harga gabah di kawasan food estate saat ini berada di kisaran Rp 6.000 hingga Rp 6.500 per kilogram. Kondisi tersebut secara langsung berdampak pada harga beras di tingkat pedagang.
Menurutnya, kenaikan harga gabah memang membawa sisi positif bagi petani karena dapat meningkatkan keuntungan hasil panen. Namun di sisi lain, hal ini juga memberikan dampak negatif terhadap daya beli masyarakat.
“Dengan situasi ekonomi yang belum stabil, kenaikan harga beras tentu semakin memberatkan masyarakat kecil, karena daya beli mereka ikut menurun,” jelasnya.
Dinas Ketahanan Pangan Pulang Pisau menilai perlu adanya langkah strategis untuk menjaga stabilisasi harga beras agar tidak terlalu membebani konsumen. Salah satu opsi yang bisa ditempuh adalah penguatan cadangan pangan daerah dan pemantauan distribusi beras secara berkala.
Rony menegaskan pihaknya akan terus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat agar ketersediaan beras di pasaran tetap terjaga, sekaligus harga bisa kembali stabil. (RETHA/j)









