BORNEONEWS, Cheongju – Lebih dari 800 pemimpin dunia berkumpul dalam KTT Perdamaian Dunia HWPL ke-11 yang digelar pada 18–19 September 2025. Acara yang diprakarsai oleh organisasi internasional Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL) ini mengusung tema “Bersatu untuk Perdamaian dan Menunaikan Tugas Kemanusiaan Bersama-sama.”
Peringatan ini tidak hanya berlangsung di Korea Selatan, tetapi juga berlanjut di 78 kota besar dunia hingga Oktober mendatang. Kehadiran para pemimpin – mulai dari mantan presiden, perdana menteri, ketua parlemen, pemimpin agama, tokoh pendidikan, media, hingga pemuda – menunjukkan semakin luasnya dukungan global terhadap inisiatif perdamaian HWPL.
Agenda utama tahun ini adalah memperluas dukungan terhadap Deklarasi Perdamaian dan Penghentian Perang (DPCW), sebuah kerangka hukum internasional yang diusulkan HWPL untuk menghentikan perang dan membangun perdamaian abadi.
Dalam setahun terakhir, dukungan terhadap DPCW semakin menguat. Setidaknya 17 lembaga internasional dan regional, termasuk PARLATINO (Parlemen Amerika Latin dan Karibia), badan legislatif Paraguay, Republik Dominika, Sudan Selatan, serta beberapa pemerintah daerah di Asia, Afrika, dan Amerika Serikat, telah mengadopsi resolusi mendukung deklarasi ini.
Ketua HWPL, Lee Man-hee, menegaskan pentingnya kolaborasi global. “Konflik tidak akan pernah menjadi hal yang baik. Apa yang harus kita wariskan kepada generasi berikutnya adalah dunia damai, bukan yang penuh pertikaian,” ujarnya.
Mantan Presiden Kroasia, Ivo Josipovj, juga menambahkan bahwa momentum ini adalah bukti nyata bahwa perdamaian dunia suatu hari bisa tercapai.
Selain aspek hukum internasional, HWPL juga menyoroti kemajuan di sektor agama dan pendidikan, yakni dialog Antaragama: HWPL kini mengoperasikan 292 Kantor WARP di 132 negara, menjadi ruang diskusi kitab suci dan dialog lintas iman. Komite Perdamaian Solidaritas Agama (SRPC) pun resmi diluncurkan.
Selain itu juga pendidikan perdamaian: Zambia mulai menerapkan kurikulum Pendidikan Perdamaian HWPL di sekolah umum, dengan rencana ekspansi nasional. Mongolia juga mengintegrasikan pendidikan perdamaian ke dalam program pembelajaran publik.
Menurut Ian Miyoba, Direktur Kebijakan Pendidikan Zambia, program ini dapat mencegah masalah sosial seperti pernikahan anak, narkoba, hingga pelanggaran hak anak.
KTT ini juga menjadi panggung bagi Konferensi Internasional 2025 tentang Reunifikasi Korea, yang membahas strategi pertukaran antar-Korea melalui kemitraan publik-swasta.
Sementara itu, keanggotaan HWPL terus meningkat pesat. Dalam satu tahun terakhir, jumlah anggota bertambah 140.000 orang, sehingga total mencapai lebih dari 580.000 anggota di seluruh dunia.
Meski Cheongju menjadi pusat peringatan, rangkaian acara KTT Perdamaian Dunia HWPL ke-11 akan terus bergulir di 78 negara hingga Oktober. Lebih dari 15.000 pemimpin internasional diperkirakan ikut serta dalam diskusi lanjutan, membahas strategi jangka panjang menuju perdamaian yang berkelanjutan.









