PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Anggota DPRD Palangka Raya, Jati Asmoro, menegaskan bahwa pembangunan sektor pariwisata tidak bisa dilepaskan dari keseimbangan antara pembangunan infrastruktur dan pelestarian alam. Ia mengingatkan, pariwisata justru akan kehilangan daya tariknya apabila pembangunan dilakukan secara serampangan tanpa memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Menurutnya, tren pariwisata saat ini semakin menuntut destinasi yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga ramah lingkungan dan berkelanjutan. Palangka Raya, dengan potensi wisata alam seperti Kereng Bangkirai dan Taman Nasional Sebangau, memiliki peluang besar. Namun, potensi itu terancam apabila pembangunan infrastruktur tidak memperhatikan aspek konservasi.

“Banyak contoh destinasi wisata yang akhirnya meredup karena kerusakan lingkungan. Jangan sampai Palangka Raya mengulangi kesalahan serupa,” ujarnya, Senin, 22 September 2025.

Jati menilai, pariwisata bukan hanya soal membangun jalan, dermaga, atau fasilitas penunjang lainnya, tetapi juga bagaimana menjaga ekosistem agar tetap terjaga untuk jangka panjang.

Ia juga menyoroti bahwa pembangunan infrastruktur wisata di Palangka Raya selama ini kerap terhambat oleh keterbatasan anggaran. Namun, hal itu bukan alasan untuk mengabaikan aspek pelestarian. Bahkan, menurutnya, infrastruktur yang baik justru harus dirancang untuk mendukung konservasi, misalnya dengan sistem pengelolaan sampah modern dan jalur akses yang ramah lingkungan.

Politisi ini menambahkan, pengelolaan pariwisata yang sehat seharusnya melibatkan masyarakat lokal sebagai bagian dari solusi. Warga sekitar harus diberdayakan, baik melalui UMKM, jasa wisata, maupun pelibatan mereka dalam menjaga kebersihan dan kelestarian alam. Dengan begitu, masyarakat akan merasa memiliki dan menjaga destinasi wisata secara berkelanjutan.

Lebih jauh, Jati mengkritisi kecenderungan beberapa proyek pariwisata yang hanya fokus pada pencitraan dan pembangunan fisik tanpa menyentuh akar permasalahan lingkungan. Ia menilai pendekatan semacam ini hanya akan menghasilkan destinasi sementara yang mudah ditinggalkan wisatawan begitu keindahan alamnya rusak.

Ia juga menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap setiap proyek infrastruktur yang dibangun di kawasan wisata. Tanpa pengawasan yang memadai, dikhawatirkan akan muncul praktik-praktik yang justru merusak lingkungan, seperti penebangan pohon secara berlebihan atau pengerukan lahan yang tidak sesuai aturan.

Sebagai penutup, Jati Asmoro menyerukan agar pemerintah kota menyusun strategi pariwisata yang lebih visioner, dengan menempatkan keseimbangan antara pembangunan infrastruktur dan pelestarian alam sebagai prinsip utama. 

“Kalau kita benar-benar serius menjaga keseimbangan itu, Palangka Raya bisa menjadi destinasi unggulan yang berkelanjutan dan membanggakan,” tegasnya. (MARINI/j)