BORNEONEWS, Jakarta – Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, memastikan cadangan beras pemerintah (CBP) sebesar 3,9 juta ton aman hingga Desember 2025. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk menjamin stabilitas pangan nasional tanpa perlu impor tambahan.
“Dengan stok 3,9 juta ton ini, kebutuhan beras masyarakat bisa dipenuhi hingga akhir tahun,” kata Rizal usai menghadiri Rapat Koordinasi Hilirisasi Komoditas Perkebunan di Jakarta, Senin (22/9).
Ia menjelaskan, sebelumnya stok CBP mencapai 4,2 juta ton hingga Juli 2025. Sebagian besar sudah didistribusikan untuk program bantuan pangan pemerintah, sehingga kini tersisa 3,9 juta ton.
Rizal menegaskan, Bulog telah menyerap gabah petani sebanyak 3 juta ton, sesuai target tahun ini. Penyerapan itu dilakukan dengan harga Rp6.500 per kilogram gabah kering panen (GKP), sebagaimana arahan Badan Pangan Nasional (Bapanas).
“Serapan gabah ini tidak hanya menjaga stok beras nasional, tetapi juga membantu meningkatkan pendapatan petani dengan harga yang layak. Petani juga terlindungi dari tengkulak yang sering merugikan,” jelasnya.
Ia mengingatkan petani agar menjual gabah dalam kondisi matang, kering, dan siap panen agar kualitas beras yang masuk cadangan pemerintah tetap terjaga.
Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyebut produksi beras nasional tahun 2025 diperkirakan mencapai 33–34 juta ton, atau surplus sekitar 3,5 juta ton dibanding kebutuhan dalam negeri. Dengan capaian tersebut, pemerintah optimistis tidak ada kebutuhan impor beras hingga akhir tahun.
“Kalau sesuai prediksi, Desember nanti kita akan surplus tiga koma sekian juta ton. Insya Allah, tahun ini kita tidak perlu impor beras,” ujar Sudaryono.
Dengan stok CBP Bulog yang kuat serta produksi nasional yang surplus, pemerintah memastikan ketahanan pangan 2025 tetap terjaga.
ANTARA









