BORNEONEWS, Banjarbaru – Menteri Sosial (Mensos) RI Saifullah Yusuf menegaskan kurikulum Sekolah Rakyat dirancang untuk membangun rasa percaya diri dan optimisme siswa agar bisa meniti karier sesuai minat serta bakat mereka.
“Peribahasanya begini, kalau burung jangan disuruh menarik gerobak, kalau sapi jangan disuruh terbang. Sama halnya dengan anak-anak kita, setiap anak punya potensi berbeda yang harus diarahkan,” ujar Saifullah saat meninjau Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin, 22 September 2025.
Menurut Mensos, setiap anak telah diberi kecerdasan istimewa sejak lahir, sehingga guru dan orang tua perlu membimbing tanpa memaksakan kehendak.
“Kalau ada anak yang suka mesin, jangan dipaksa jadi perawat. Profesi itu punya dunia berbeda. Anak harus diberi ruang memilih sesuai kemampuan, dengan tetap ada pendampingan,” tegasnya.
Saifullah menjelaskan, hingga saat ini pemerintah telah memetakan minat siswa Sekolah Rakyat. Hasilnya, ada 1.828 siswa berminat pada bidang teknologi, teknik, dan matematika, sementara 1.938 siswa tertarik bidang sosial, serta 1.123 siswa menggemari bidang bahasa.
Ia juga menekankan pentingnya peran guru untuk membantu anak mengambil keputusan, membangun kepercayaan diri, melatih komunikasi, serta menumbuhkan sikap tegas.
“Anak-anak punya banyak kelebihan, seperti ketulusan dan keikhlasan. Tapi mereka juga punya kelemahan. Di sinilah peran guru sangat penting untuk menuntun,” jelasnya.
Mensos turut mengingatkan pihak sekolah agar tetap memperhatikan kedekatan emosional antara anak dan orang tua, khususnya bagi siswa yang tinggal di asrama.
“Kalau orang tua rindu, sekolah wajib memberi kesempatan untuk bertemu anaknya. Itu penting agar anak tetap mendapat dukungan emosional,” katanya.
Dengan kurikulum berbasis minat dan bakat ini, Kementerian Sosial berharap Sekolah Rakyat bisa menjadi wadah pendidikan alternatif yang mampu mencetak generasi percaya diri, mandiri, dan siap berkarier di masa depan.
ANTARA









