BORNEONEWS, Pulang Pisau -Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, memberikan layanan pendampingan dan konseling bagi pasien HIV/AIDS. Upaya ini dilakukan sebagai bentuk perhatian serius terhadap penambahan kasus baru di tahun 2025.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pulang Pisau, Mimiwati, menyebutkan bahwa sepanjang 2025 ditemukan tiga kasus baru HIV/AIDS. Kasus tersebut terdiri dari satu ibu hamil dan dua laki-laki dewasa.
“Pada 2024 jumlah kasus hanya delapan. Dengan adanya penambahan ini, tentu menjadi perhatian serius bagi kami,” ujarnya di Pulang Pisau, Kamis, 25 September 2025.
Menurut Mimiwati, setiap pasien mendapatkan konseling sesuai wilayah domisili melalui tenaga kesehatan di puskesmas. Layanan ini bertujuan memberikan dukungan psikologis sekaligus bimbingan pola hidup sehat agar pasien tidak merasa sendirian menghadapi kondisi tersebut.
“Kami sudah menyiapkan sistem agar pendampingan berjalan terarah dan berkelanjutan,” tambahnya.
Kasus baru HIV/AIDS di Pulang Pisau terungkap melalui program triple eliminasi yang dijalankan Dinkes. Program ini mencakup pemeriksaan HIV (Voluntary Counseling and Testing/VCT), sifilis, dan hepatitis, khususnya bagi ibu hamil.
Dari pemeriksaan tersebut, seorang ibu hamil dinyatakan positif hepatitis sekaligus HIV/AIDS. Setelah itu, dilakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) dengan memeriksa keluarga pasien yang memiliki kontak erat. Hasilnya, suami pasien juga diketahui positif HIV/AIDS.
“Setelah hasil positif keluar, kami langsung menindaklanjuti dengan PE dan mendatangi rumah pasien untuk pemeriksaan keluarga,” jelas Mimiwati.
Selain pasangan suami istri tersebut, Dinkes Pulang Pisau juga menemukan dua kasus HIV/AIDS pada laki-laki dewasa. Salah satunya diketahui memiliki istri dan anak yang tinggal di luar Kalimantan. Setelah hasil pemeriksaan keluar, pasien tersebut memilih kembali berkumpul dengan keluarganya.
“Kami sudah melakukan PE, namun pemeriksaan kontak erat keluarga, khususnya istri dan anaknya, masih terkendala jarak,” ungkap Mimiwati.
Mimiwati menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya memperkuat pendampingan, deteksi dini, dan edukasi masyarakat agar penyebaran HIV/AIDS dapat ditekan serta pasien tetap mendapatkan kualitas hidup yang baik.









