PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman, menegaskan bahwa industri kelapa sawit merupakan sektor strategis nasional yang berperan penting dalam menopang perekonomian Indonesia.

“Sawit bukan sekadar komoditas, melainkan pilar devisa yang menopang pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Eddy dalam keterangannya pada Kamis, 25 September 2025.

Pernyataan ini sejalan dengan temuan PASPI Monitor (2025) yang menyebut sawit sebagai pahlawan devisa Indonesia.

Kontribusi sawit terhadap devisa negara tercermin melalui dua mekanisme utama: devisa ekspor dan devisa substitusi impor. Dari sisi ekspor, produk kelapa sawit telah menjadi komoditas pertanian dengan nilai ekspor terbesar selama dua dekade terakhir. Sejak kebijakan ekspor diterapkan pada tahun 2000, nilai ekspor sawit melonjak dari US$1 miliar menjadi US$28,3 miliar pada 2024. Bahkan, pada 2022, devisa ekspor sawit mencetak rekor US$39 miliar. Pasar utama ekspor meliputi China, India, Uni Eropa, Pakistan, dan Amerika Serikat.

Tak hanya volume ekspor yang meningkat, kualitas ekspor sawit juga menunjukkan perbaikan. Eddy menjelaskan bahwa hilirisasi produk sawit dalam negeri telah berhasil meningkatkan nilai tambah. Pangsa ekspor produk olahan seperti RPO dan RPKO naik dari 41 persen pada 2011 menjadi 74 persen pada 2024. Sementara itu, ekspor produk jadi seperti oleokimia dan biodiesel meningkat dari 7 persen menjadi 16 persen. Sebaliknya, ekspor bahan mentah seperti CPO dan CPKO menurun drastis dari 52 persen menjadi hanya 10 persen.

Dampak devisa ekspor sawit terhadap neraca perdagangan non-migas sangat signifikan. Pada 2024, neraca perdagangan non-migas dengan kontribusi sawit mencatat surplus sebesar US$51,4 miliar. Tanpa sawit, surplus tersebut hanya mencapai US$23,1 miliar.

“Tanpa sawit, neraca non-migas kita bisa defisit,” kata Eddy.

Ia menambahkan bahwa sawit telah menjadi penyeimbang utama dalam menjaga stabilitas perdagangan nasional.

Selain ekspor, sawit juga berperan dalam substitusi impor melalui biodiesel. Program mandatori biodiesel sawit terbukti mampu menekan defisit neraca migas. Pada 2024, defisit neraca migas dengan biodiesel sawit tercatat sebesar US$20,4 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan defisit tanpa biodiesel yang mencapai US$28,5 miliar.

“Biodiesel sawit adalah solusi energi sekaligus penyelamat devisa,” ujar Eddy.

Secara keseluruhan, kontribusi sawit melalui ekspor dan biodiesel berhasil menciptakan surplus neraca perdagangan sebesar US$31 miliar pada 2024. Tanpa sawit, Indonesia justru akan mencatat defisit sebesar US$5,3 miliar. Eddy menekankan bahwa surplus ini membuka ruang bagi pembiayaan sektor ekonomi lainnya, termasuk penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan.

“Sawit bukan hanya soal ekonomi, tapi juga soal masa depan bangsa,” tuturnya. (TESTI PRISCILLA/j)