BORNEONEWS, Palangka Raya - Bursa Efek Indonesia atau BEI Provinsi Kalimantan Tengah terus memperkuat peran edukasi dan inklusi pasar modal di wilayahnya melalui berbagai strategi kolaboratif. Kepala Kantor BEI Kalteng, Stephanus Cahyo Adiraja, menyampaikan bahwa peningkatan literasi keuangan masyarakat menjadi prioritas utama dalam mendorong partisipasi aktif di pasar modal.
“Kami tidak hanya menyasar kalangan akademisi, tetapi juga komunitas UMKM, ASN, dan pelajar agar pemahaman tentang investasi semakin merata,” kata Cahyo kepada Borneonews pada Kamis, 25 September 2025.
Dalam upaya tersebut, BEI Kalteng telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi, sekolah, dan instansi pemerintah. Program Sekolah Pasar Modal (SPM) dan Galeri Investasi menjadi ujung tombak edukasi yang terus diperluas cakupannya.
“Kami melihat antusiasme tinggi dari generasi muda, terutama mahasiswa, yang mulai tertarik memahami instrumen investasi seperti saham dan reksa dana,” tambah Cahyo.
Selain edukasi, BEI Kalteng juga aktif mendorong inklusi keuangan melalui pembukaan rekening efek secara massal. Menurut Stephanus, pendekatan ini dilakukan dengan menggandeng perusahaan sekuritas dan komunitas lokal agar prosesnya lebih mudah diakses.
“Kami ingin memastikan bahwa siapa pun, dari latar belakang apa pun, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi investor,” tegasnya.
Data terbaru menunjukkan adanya peningkatan signifikan jumlah investor di Kalimantan Tengah, terutama dari kalangan milenial. Stephanus menilai tren ini sebagai sinyal positif bahwa masyarakat mulai memahami pentingnya investasi jangka panjang.
“Kami optimis, dengan pendekatan yang konsisten dan adaptif, pertumbuhan investor lokal akan terus meningkat,” katanya.
BEI Kalteng juga menyoroti pentingnya literasi digital dalam mendukung inklusi pasar modal. Melalui pelatihan daring dan konten edukatif di media sosial, masyarakat diajak memahami risiko dan peluang investasi secara bijak.
“Kami tidak hanya bicara soal keuntungan, tetapi juga bagaimana menjadi investor yang bertanggung jawab,” ujar Cahyo lagi.
Ke depan, BEI Kalteng berkomitmen memperluas jangkauan edukasi hingga ke daerah-daerah terpencil. Dengan semangat kolaborasi dan prinsip keberlanjutan, Stephanus berharap pasar modal dapat menjadi instrumen pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.
“Pasar modal bukan hanya milik kota besar, tetapi milik seluruh rakyat Indonesia,” tuturnya. (TESTI PRISCILLA/j)









