BORNEONEWS, Tanjung Banon - Menteri Transmigrasi, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menyerahkan 45 sertifikat hak milik (SHM) kepada para warga Rempang yang mengikuti program transmigrasi ke Tanjung Banon, Provinsi Kepulauan Riau.
"Kami menyerahkan 45 SHM yang menjadi bagian dari total keseluruhan yang sudah kami berikan 207 SHM," ujar Iftitah di Tanjung Banon, Kepulauan Riau pada Kamis 25 September 2025.
Dia menyampaikan pemberian SHM kepada warga Rempang yang mengikuti program transmigrasi ke Tanjung Banon tersebut dilakukan secara bertahap dan melalui program Trans Tuntas.
Program Trans Tuntas dirancang oleh Kementerian Transmigrasi (Kementrans) untuk menyelesaikan berbagai persoalan lahan transmigrasi secara tuntas, cepat, dan responsif terhadap laporan masyarakat.
Fokus utamanya memastikan transmigran mendapatkan hak atas lahan secara legal dan bebas konflik, serta memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap program transmigrasi.
"Kami memastikan bahwa Kementerian Transmigrasi hari ini di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, itu tidak lagi menimbun masalah terkait dengan lahan," kata Iftitah.
Selama ini Kementrans memiliki pekerjaan rumah di mana 129.000 bidang tanah belum disertifikatkan.
"Hari ini begitu ditempatkan dia langsung dapat sertifikat. Jadi kami tidak ingin lagi ada persoalan terkait dengan lahan ke depan," ujar Iftitah.
Dia juga menyampaikan bahwa Tanjung Banon resmi menjadi kawasan transmigrasi dan menjadi contoh kawasan transmigrasi modern.
Sebelumnya, Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanegara menyerahkan 94 sertifikat hak milik (SHM) kepada warga terdampak pengembangan Rempang Eco City, yang telah direlokasi ke kawasan Tanjung Banon, Batam, Kepulauan Riau.
Penyerahan ini melengkapi 68 sertifikat yang sebelumnya sudah diberikan, sehingga total 162 warga yang pindah ke Tanjung Banon kini telah memegang SHM atas lahan seluas 500 meter persegi.
Iftitah menegaskan kawasan Tanjung Banon diharapkan menjadi percontohan transmigrasi modern yang tidak sekadar memindahkan penduduk, tetapi membangun kehidupan bersama yang berlandaskan gotong royong.
ANTARA









