BORNEONEWS, Sampit – Desa Hanjalipan, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), masih terdampak banjir meskipun sudah hampir dua pekan terakhir. Banjir mulai melanda sejak 14 September 2025 dan mencapai puncaknya pada 17 September lalu.
“Banjir sudah hampir dua minggu, puncaknya pada 17 September. Dari sisi perekonomian memang cukup terhambat. Kondisi ini terus kami pantau, apalagi menurut prakiraan cuaca pada dasarian pertama Oktober akan kembali terjadi hujan lebat. Kami berharap situasi bisa terkendali,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, Jumat, 26 September 2025.
Sebelumnya pihaknya bersama Wakil Bupati Kotim Irawati, TNI, Polri meninjau langsung lokasi bencana banjir di Desa Hanjalipan.
Ia mengatakan, banjir yang berkepanjangan tersebut berdampak besar terhadap perekonomian warga. Meski begitu, aktivitas masyarakat tetap berjalan meski dengan berbagai keterbatasan.
Meski wilayah desa tersebut tergenang banjir, listrik dan jaringan komunikasi di tetap berfungsi dengan baik. Warga tetap beraktivitas, meski dalam kondisi terbatas akibat akses jalan dan fasilitas umum yang terdampak banjir.
“Kami bersama TNI dan Polri sudah turun langsung mengecek kondisi lapangan. Harapannya masyarakat bisa tetap berharmonisasi dengan kondisi alam, sehingga roda perekonomian tetap berjalan,” tambahnya.
BPBD Kotim mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama menjaga keselamatan anak-anak saat beraktivitas di wilayah banjir.
“Kami mengingatkan agar orang tua selalu mengawasi anak-anaknya supaya tidak terjadi hal-hal yang membahayakan keselamatan,” tandasnya. (DEWI PATMALASARI/y)









