SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Banjir yang merendam Desa Hanjalipan, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) sejak 14 September 2025 membuat akses warga terputus. Aktivitas masyarakat pun terbatas, karena hanya bisa menggunakan perahu atau sampan untuk beraktivitas sehari-hari.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan ketinggian air di jalan poros desa mencapai 30 hingga 60 sentimeter dengan panjang genangan sekitar dua kilometer.

“Aktivitas masyarakat terbatas sepanjang aktivitas mereka menggunakan sampan. Untuk pergi ke kecamatan atau ibukota kabupaten, mereka harus menyeberang ke Desa Jemaras melewati perkebunan. Dari seberang, perjalanan bisa memakan waktu dua setengah hingga tiga jam menuju kabupaten,” kata Multazam, Jumat, 26 September 2025.

Ada empat RT terdampak banjir yakni RT 1 dan RT 4 mengalami genangan paling dalam, sementara RT 2 dan RT 3 ketinggiannya bervariasi. Meski sebagian besar rumah warga berupa rumah panggung sehingga tidak terendam, ada lima rumah yang dimasuki air.

“Fasilitas umum yang terdampak cukup signifikan adalah sekolah dasar yang terendam. Sementara pustu masih aman karena bangunannya rumah panggung,” ujarnya.

BPBD Kotim juga mewaspadai risiko kesehatan akibat banjir. Multazam berharap Dinas Kesehatan lebih intens menjaga kondisi masyarakat, terutama anak-anak dan lansia yang rentan terserang penyakit.

Dari sisi kelistrikan, kondisi sudah lebih baik karena warga kini menggunakan pasokan listrik PLN, menggantikan PLTS yang sebelumnya digunakan. Pihaknya sudah berkomunikasi dengan PLN agar memberikan sosialisasi terkait keamanan listrik saat banjir.

“Kita juga perlu waspada karena menurut informasi BMKG, akan ada peningkatan curah hujan sejak dasarian pertama bulan Oktober,” tandasnya.

Adapun, Berdasarkan kajian risiko bencana BPBD Kotim, Desa Hanjalipan merupakan desa terakhir yang tergenang banjir di sepanjang Sungai Mentaya. Pada periode sebelumnya, banjir juga terjadi di wilayah utara Kotim seperti Tualan Hulu, Telaga Antang, Antang Kalang, dan Bukit Santuai, namun dengan durasi lebih singkat, hanya 12 jam hingga 3 hari. (DEWI PATMALASARI/H)