PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun – Kementerian Koperasi RI melalui Asisten Deputi Bidang Pengembangan Produksi menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Usaha Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) melalui hilirisasi komoditas unggulan. Kegiatan berlangsung di Ballroom Hotel Mercure Pangkalan Bun, Jumat, 26 September 2025.

Bimtek ini dibuka oleh Asisten Deputi Pengembangan Produksi Kemenkop RI, Elviandi RS. Hadir pula Kepala Disperindagkop-UKM Kotawaringin Barat (Kobar), perwakilan Koperasi Karya Sawit Mandiri Jaya (KSMJ), serta para pengelola KDKMP dari sejumlah desa dan kelurahan di Kobar.

Dalam sambutannya, Elviandi menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan ini sejalan dengan terbitnya Binpres Nomor 9 Tahun 2025 tentang percepatan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), yang melibatkan 16 kementerian dan lembaga.

“Di Asisten Deputi Pengembangan Produksi, tahun ini kami melaksanakan program di enam lokasi. Tiga di antaranya terkait hilirisasi komoditas unggulan, dan Pangkalan Bun menjadi lokasi pertama yang kami pilih,” ujar Elviandi.

Pangkalan Bun dipilih sebagai lokasi awal karena memiliki potensi besar dalam pengembangan hilirisasi, terutama di sektor perkebunan.

“Semua potensi yang ada di Kobar memiliki nilai tambah, dan ini harus dikelola koperasi agar bisa menghasilkan produk turunan,” tambahnya.

Menurut Elviandi, salah satu target utama hilirisasi di Kobar adalah pembangunan pabrik CPO (Crude Palm Oil).

“Alangkah beruntungnya Pangkalan Bun jika bisa menjadi pilot project dalam pembangunan pabrik CPO melalui koperasi. Ini wujud komitmen kementerian untuk mendorong industri berbasis hilirisasi,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia berharap kerja sama erat antara KMP, pemerintah daerah, dan masyarakat. Dengan hilirisasi, perekonomian masyarakat akan lebih kuat, karena Kobar memiliki kekayaan alam luar biasa di sektor perkebunan, pertanian, perikanan, dan hortikultura.

Selain membuka peluang bisnis baru, Bimtek juga menghadirkan sejumlah pemateri nasional. Peserta dibekali dengan pendampingan bisnis, termasuk rencana untuk menghadirkan sembilan business assistant di Kobar yang siap membantu koperasi dalam menyusun rencana usaha.

“Pendampingan ini penting agar koperasi mampu membuat rencana bisnis yang kuat, sehingga bisa mengakses anggaran maupun pembiayaan. Fokus kita adalah penguatan kapasitas koperasi yang profesional, transparan, dan modern,” jelas Elviandi.

Program ini juga menyasar pemetaan komoditas daerah, pemanfaatan teknologi, hingga akses pembiayaan. Komoditas yang menjadi titik fokus pengembangan antara lain beras, susu, LPG, telur, dan tepung.

“Kita dorong kemitraan dengan pemasaran digital, juga membantu sertifikasi agar produk koperasi bisa menembus pasar nasional bahkan internasional,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Disperindagkop-UKM Kobar Alfan Khusnaini menyampaikan apresiasi atas terpilihnya Pangkalan Bun sebagai lokasi roadshow pertama.

“Kami optimistis program ini akan memberi manfaat besar bagi penguatan koperasi di daerah, sekaligus membuka peluang investasi baru,” ungkapnya.

Elviandi menutup dengan harapan agar Bimtek ini dapat menghasilkan produk turunan yang berdaya saing tinggi.

“Kami ingin koperasi di Kobar tidak hanya kuat di level lokal, tapi juga mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Semoga manfaat dari kegiatan ini benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” tutupnya.(DANANG/R)