KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Banjarmasin - Sebuah warisan budaya tak benda yang unik dan sakral dari Kesultanan Banjar kembali digelar. Tradisi tahunan bertajuk Aruh Kuin Ma’aturi Dahar 2025 telah dilaksanakan dengan penuh khidmat di kawasan Makam Sultan Suriansyah, Banjarmasin baru-baru ini. Acara ini merupakan perpaduan antara ritual Jamasan (pembersihan) benda pusaka leluhur dengan selamatan yang ditandai penyajian puluhan macam kue tradisional Banjar.

Menurut Arif Abdurrahman, warga sekitar Makam Sultan Suriansyah, kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap awal bulan Maulid. "Acara ini biasa diadakan pada awal-awal bulan Maulid, untuk menghormati jasa-jasa para leluhur pendiri Kesultanan Banjar," ungkapnya.

Ma’aturi Dahar sendiri, yang secara harfiah berarti 'menyajikan makanan', adalah tradisi sakral warisan Kesultanan Banjar yang memadukan dua inti prosesi. Prosesi pertama adalah Jamasan dan Selamatan Pusaka leluhur para pendiri Kesultanan Banjar, dan prosesi kedua adalah penyajian 41 macam kue khas Banjar yang melambangkan kekayaan kuliner dan ungkapan syukur.

Tradisi ini memiliki makna mendalam sebagai wujud syukur dan penghormatan serta menjadi momentum doa bersama yang ditujukan kepada para pendiri Kesultanan Banjar, khususnya Sultan Suriansyah sebagai Raja Banjar pertama yang memeluk Islam. Selain itu, doa juga ditujukan kepada para pendakwah atau Dai yang telah berjasa menyebarkan syiar agama Islam di Bumi Kalimantan.

Dijelaskan lebih lanjut mengenai prosesinya, Arif Abdurrahman menyebutkan bahwa rangkaian kegiatan mencakup ritual membersihkan pusaka leluhur dan dilanjutkan dengan selamatan yang melibatkan pembacaan zikir, selawat, dan doa bersama. Benda-benda pusaka tersebut dibersihkan dengan air khusus dan diasapi dupa, sebuah prosesi yang sarat makna pelestarian.

Penyajian 41 macam kue tradisional yang bervariasi menjadi daya tarik khas dari Aruh Kuin Ma’aturi Dahar. Setelah prosesi doa selesai, kue-kue dan makanan yang telah disiapkan tersebut akan dinikmati bersama-sama oleh para zuriat (keturunan), tokoh agama, dan masyarakat yang hadir, menjadikannya media silaturahmi yang sakral dan meriah.

“Diharapkan setiap tahun acara ini semakin baik dan semakin besar dan semakin dicintai masyarakat Banjarmasin,” harap Arif Abdurrahman. 

Aruh Kuin Ma’aturi Dahar bukan hanya sekadar ritual keagamaan dan adat, tetapi juga merupakan upaya pelestarian budaya luhur yang memperkuat identitas masyarakat Banjar. (SABRIANOOR/j)