BORNEONEWS, Banjarmasin - Sebuah kisah heroik di balik pendirian Kesultanan Banjar dihidupkan kembali melalui pusaka keris "Raja Tumpang." Keris atau lading ini bukan sekadar benda bersejarah, melainkan simbol Persaudaraan, Perlindungan, dan Penghargaan dari Pangeran Samudera, yang kelak dikenal sebagai Sultan Suriansyah, raja pertama Kesultanan Banjar. Kisah ini menjadi pengingat akan jasa para tokoh lokal dalam masa-masa genting kerajaan.
Menurut sumber lisan turun temurun yang disampaikan oleh Sultan Kesultanan Banjar saat ini, Sultan Haji Khairul Saleh, sejarah pusaka ini bermula dari masa kecil Pangeran Samudera. Saat itu, konflik politik internal di istana Nagara Daha membuat Pangeran Samudera berada dalam situasi yang sangat genting dan diburu oleh lawan-lawan politik dari keluarganya sendiri.
"Dalam pelariannya, Pangeran Samudera menemukan tempat persembunyian yang aman di sebuah desa kecil bernama Balandean, yang terletak di pinggiran sungai besar. Masa-masa kritis ini menjadi babak penting dalam perjalanan hidupnya, di mana ia harus bertahan hidup dan menanti kesempatan untuk merebut kembali takhta yang seharusnya menjadi miliknya," ungkap Sultan Haji Khairul Saleh dikutip dari situs resmi Kesultanan Banjar.
Di sanalah peran krusial seorang tokoh lokal muncul. Pangeran Samudera mendapat perlindungan dari Mantri Jaya Arja, seorang tokoh yang dikenal karismatik, pemberani, dan disegani. Mantri Jaya Arja merupakan pemimpin lokal yang setia, memiliki ilmu bela diri yang tinggi, dan memegang jaringan rakyat yang kuat di wilayah pedalaman Banjar.
Berkat perlindungan dan kesetiaan Mantri Jaya Arja, Pangeran Samudera berhasil bertahan selama bertahun-tahun hingga ia tumbuh dewasa dan siap mengklaim takhta. Jasa Mantri Jaya Arja dalam menjaga keselamatan calon raja ini menjadi fondasi penting bagi stabilitas politik dan dukungan rakyat saat Kesultanan Banjar didirikan.
"Setelah berhasil naik takhta dan mendirikan Kesultanan Banjar dengan bantuan militer dan dukungan dari Kesultanan Demak, Sultan Suriansyah (Pangeran Samudera) tidak pernah melupakan jasa para pelindungnya. Sebagai bentuk terima kasih dan penghormatan yang mendalam, beliau secara khusus memberikan sebuah keris pusaka kepada Mantri Jaya Arja," lanjut Sultan.
Pusaka keris inilah yang kemudian dinamakan "Raja Tumpang." Nama ini menyimpan makna filosofis yang sangat kuat. "Raja Tumpang" secara harfiah berarti "Pemberian seorang Raja yang pernah menumpang." Makna ini merujuk pada tiga hal utama: menumpang hidup, menumpang harapan, dan menumpang masa depan. Pusaka ini melambangkan utang budi seorang raja kepada pelindungnya.
Sultan Haji Khairul Saleh berharap, dengan diungkapkannya kembali sejarah ini, generasi muda Banjar dapat memahami pentingnya kesetiaan, persaudaraan, dan penghargaan terhadap jasa para pendahulu. Kisah pusaka "Raja Tumpang" menegaskan bahwa kejayaan Kesultanan Banjar dibangun atas dasar pengorbanan dan dukungan tulus dari rakyat jelata.
Keris Pusaka Raja Tumpang saat ini berada di Museum Kementerian Kebudayaan RI, sebagai warisan budaya dan sejarah yang tak ternilai harganya. (SABRIANOOR/j)









