PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Upaya peningkatan pemahaman prinsip keberlanjutan dalam industri kelapa sawit terus digencarkan. PT Sawit Center Indonesia atau SCI bersama Asosiasi Konsultan Perkebunan Yogyakarta atau AKPY menggelar pelatihan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil atau ISPO bagi para pekebun sawit di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Kegiatan yang berlangsung selama lima hari, 23–27 September 2025, ini diikuti oleh 20 peserta dari kalangan pekebun rakyat. Bertempat di salah satu hotel di Pangkalan Bun, pelatihan menghadirkan sejumlah narasumber sesuai bidang keahlian masing-masing. Pada hari terakhir, peserta dijadwalkan melakukan kunjungan lapangan ke kebun sawit milik KUD Tani Subur yang telah tersertifikasi ISPO.

Direktur PT SCI-AKPY, Dr Sri Gunawan, menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari persiapan penerapan ISPO secara wajib (mandatory) bagi pekebun. Menurutnya, sertifikasi ISPO tidak hanya menjamin kelayakan usaha dari sisi ekonomi, sosial, dan lingkungan, tetapi juga meningkatkan produktivitas dan kepastian hukum.

“Jika prinsip dan kriteria ISPO, khususnya praktik pertanian yang baik (Good Agriculture Practices), diterapkan, maka produktivitas akan meningkat, legalitas usaha terjamin, dan lingkungan tetap lestari. Selain itu, hasil panen lebih diterima di pasar domestik maupun global,” ujar Sri Gunawan dalam rilisnya pada Sabtu, 27 September 2025.

ISPO merupakan kebijakan nasional yang mengacu pada Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan. Implementasinya tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2020, yang kini diperbarui menjadi Perpres Nomor 16 Tahun 2025.

Sri Gunawan menambahkan, pelatihan ini juga bertujuan agar peserta memahami dokumen-dokumen yang diperlukan dalam proses pengajuan sertifikasi.

“Kami siap mendampingi pekebun hingga memperoleh sertifikasi ISPO,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kotawaringin Barat, Ir Kris Budi Hastuti, menyampaikan bahwa pelatihan ini tidak hanya bersifat teoritis. Peserta juga diajak melihat langsung praktik pengelolaan kebun sawit yang telah memenuhi standar ISPO.

“Harapannya, peserta dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk mengajukan sertifikasi ISPO, demi keberlanjutan usaha perkebunan sawit,” ujar Kris.

Ia menambahkan, sektor kelapa sawit merupakan tulang punggung ekonomi Kotawaringin Barat. Dengan luas kebun rakyat mencapai 46.446 hektare, peningkatan kualitas dan tata kelola yang berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak.

“Pelatihan seperti ini penting untuk mendorong pengelolaan sawit yang ramah lingkungan, tidak merusak, dan berkelanjutan,” kata Kris. (TESTI PRISCILLA/j)