KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Sudut Jalan Ahmad Yani di Kuala Kapuas menyimpan sebuah kisah tentang pergeseran zaman dan matinya sebuah layanan publik. Sebuah halte tua yang kini terbengkalai berdiri sebagai saksi bisu, menandai lenyapnya jasa transportasi taksi umum dari hiruk pikuk kota. Begitupun dengan taksi angkutan umumnya yang semakin jarang dan langka terlihat.

Beruntungnya, Yudi, warga Kapuas sempat mengabadikan satu buah taksi angkutan berwarna biru di depan toko berasnya. Taksi yang dulunya mendominasi jalanan kini hampir jarang terlihat.

"Nah, ini kebetulan ada taksinya pas singgah di depan toko beras," ucapnya kepada Borneonews, Sabtu, 27 September 2025. Cukup sederhana kedengarannya, tapi ini langka dan mengesankan.

Salah satu warga Kapuas lainnya, Fauzia, mengungkapkan keprihatinannya pada Sabtu, 27 September 2025. Menurutnya, pemandangan taksi umum yang beroperasi secara reguler sudah menjadi barang langka. 

"Kini, hanya tersisa satu atau dua taksi yang beroperasi, itupun sudah jarang terlihat," ungkap Fauzia, menggambarkan betapa drastisnya penurunan jumlah armada tersebut.

Fauzia menambahkan bahwa dalam kurun waktu kurang lebih sepuluh tahun terakhir, frekuensi kemunculan taksi umum tersebut di Kuala Kapuas telah jauh berkurang. Padahal, dahulu taksi menjadi urat nadi penting dalam mobilitas warga kota, khususnya di rute-rute strategis.

"Biasanya dulu ada, jemput anak sekolah di halte, sekolah maupun ibu-ibu ke pasar," kenang Fauzia. Taksi umum memiliki peran penting, khususnya di sepanjang Jalan Barito dan Jalan Tjilik Riwut, yang merupakan jalur utama pergerakan masyarakat.

Hilangnya taksi umum ini diperkirakan karena tekanan persaingan yang ketat dari layanan transportasi berbasis daring (online) serta meningkatnya kepemilikan kendaraan pribadi.

Masyarakat cenderung beralih ke pilihan yang menawarkan efisiensi waktu, kemudahan pemesanan, dan biaya yang kompetitif, membuat taksi konvensional kesulitan mempertahankan eksistensinya. (SABRIANOOR/j)