BORNEONEWS, Sampit – Seleksi Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) 2025 tingkat Provinsi Kalimantan Tengah yang digelar di Palangka Raya pada 25–26 September 2025 menyisakan kekecewaan bagi kontingen Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Pasalnya, dua atlet tenis meja asal Kotim harus berangkat dengan biaya mandiri tanpa dukungan anggaran dari pemerintah daerah.
“Kotim hanya mengirim dua atlet tenis meja dengan biaya mandiri. Sebelumnya, Pengcab (pengurus cabang olahraga) kami sudah menghadap ke Dispora Kotim, tapi katanya tidak ada dana. Seharusnya, setidaknya ada uang bensin untuk memfasilitasi atlet. Akhirnya, biaya berangkat saya yang tanggung karena anak-anak ingin tetap ikut,” kata pendamping atlet tenis meja Kotim Yahya, Sabtu, 27 September 2025.
Saat kegiatan tersebut pun, dirinya sempat berbincang dengan daerah lain bahwa Dispora Kalteng telah mengirimkan surat kepada Dispora masing-masing kabupaten untuk mendukung seleksi Popnas. Namun nyatanya, kata dia, Dispora Kotim tidak memberikan dukungan dengan alasan tidak ada anggaran. Padahal, untuk mengirim atlet ke Palangka Raya memerlukan biaya transportasi, akomodasi dan makan.
Dia melanjutkan, Kotim sebenarnya memiliki empat atlet tenis meja yang siap bertanding. Namun dua lainnya batal berangkat karena keterbatasan biaya dan keluarga juga tidak mampu memberangkatkan. Alhasil, hanya dua atlet yang tampil, yakni Jefri Ramaditya dari SMAN 1 Sampit dan Nur Vania Marisa dari SMPN 1 Sampit.
Kondisi semakin memprihatinkan karena, berbeda dengan kabupaten lain yang didukung penuh Pemda masing-masing dengan perlengkapan jersey resmi dan pendampingan Dispora. Sedangkan atlet Kotim hanya memakai baju latihan.
“Hal ini jelas jadi tekanan mental bagi anak-anak sebelum bertanding. Semangatnya berbeda saat melihat atlet dari daerah lain tampil dengan dukungan penuh, sementara mereka datang seadanya,” tambah Yahya.
Meski dengan keterbatasan, atlet Kotim tetap mampu menunjukkan prestasi. Jefri Ramaditya sukses meraih juara 1 dan memastikan tiket ke tingkat nasional di Jakarta pada November 2025. Namun, keberhasilan itu masih dibayangi kekhawatiran Jefri batal berangkat karena keterbatasan anggaran.
“Kata Dispora Kalteng, biaya bagi atlet yang melaju ke nasional dibebankan ke kabupaten masing-masing. Kalau tidak ada dukungan, bisa saja Jefri gagal berangkat. Tentu ini sangat disayangkan,” ujarnya.
Yahya menilai, Pemkab Kotim perlu lebih memperhatikan pembinaan olahraga, khususnya tenis meja. Padahal, pada Porprov sebelumnya, Kotim menjadi juara umum cabang tenis meja dengan tiga emas.
“Kami bahkan tidak punya gedung latihan. Semua berjalan mandiri. Kalau tidak ada dukungan daerah, bagaimana pembinaan bisa berjalan? Apalagi tahun depan ada Porprov,” tuturnya.
Ia berharap, pemerintah daerah segera turun tangan agar atlet Kotim bisa terus berprestasi dan mengharumkan nama daerah di tingkat provinsi maupun nasional.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kotawaringin Timur (Kotim), Wiyono membenarkan bahwa pihaknya sempat berkomunikasi dengan Pengcab terkait pemberangkatan atlet seleksi Popnas tersebut. Namun, pihaknya mengaku keterbatasan anggaran membuat Dispora tidak mampu memenuhi pembiayaan untuk keberangkatan atlet ke Palangka Raya.
"Memang tidak ada anggaran untuk (memberangkatkan atlet) Popnas ke provinsi. Kalau ada, wajib kita support. Berbeda dengan tahun lalu kami bisa mengalokasikan anggaran," kata Wiyono saat dikonfirmasi.
Dia melanjutkan, pada pertemuan itu, dirinya menyampaikan bahwa Dispora akan berupaya mengalokasikan anggaran jika ada atlet yang berhasil melaju ke tingkat nasional.
Kondisi itu tidak hanya untuk memberangkatkan atlet Popnas, bahkan Dispora Kotim nyaris tidak memiliki anggaran untuk kegiatan. Tahun ini, pihaknya hanya fokus untuk 2 kegiatan yakni Musorkab KONI dan Gubernur Cup.
"Prihatin sekali dispora tahun ini. Jadi kondisinya memang kemarin kami tidak ada anggaran. Namun kita mendukung agar berjalan bagus kita berusaha sekuat tenaga kalau sampai nasional nanti kami bijaki kami dukung dengan menggeser anggaran perubahan," imbuhnya.
Ia menegaskan, mendukung atlet daerah bukan hanya tugas pemerintah daerah. Sehingga, dirinya mengapresiasi peran orang tua dan pendamping yang mau mendukung keberangkatan atlet ke provinsi.
"Tugas ini bukan hanya pemda yang mendukung olahraga. Jika berprestasi atlet dan orang tua akan banyak menerima kemudahan baik di sekolah, saat melanjutkan ke jenjang berikutnya maupun saat bekerja nanti. Jadi perlu peran serta orang tua," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/y)









