SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Tarian kolosal dengan judul kemilau cahaya di kota mentaya yang dibawakan oleh para pelajar SMP, SMA dan sanggar seni di Sampit memukau penonton saat pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-56 tingkat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) di Kecamatan Baamang, Sabtu malam, 27 September 2025.

"Tadi bersama-sama kita saksikan anak-anak kita membawakan tarian kolosal yang cukup memukau. Saya berterima kasih kepada panitia dan ini menjadi tugas instansi terkait untuk membina agar tampil lebih baik lagi agar bisa ditampilkan di tingkat provinsi hingga nasional," kata Bupati Kotim Halikinnor.

Tarian kolosal tersebut sebagai bentuk penyambutan kafilah dari seluruh kecamatan di Kotim. Koregrafinya bercerita tentang Sampit yang menjadi salah satu pusat perekonomian yang maju di Kalteng dengan masyarakatnya yaitu dayak ngaju.

Adapun dalam sinopsisnya digambarkan Sampit dikenal memiliki 2 kebudayaan yaitu budaya pedalaman atau ngaju dan budaya pesisir yang bernuansa islami.

Terbentuknya budaya pesisir ini tak luput karena faktor perdagangan, dimana bernaurnya pedagang-pedagang dari luar atau melayu yang akan menjadi salah satu faktor pembangunan di Sampit. Budaya luar ini berakulturasi dengan budaya lokal sehingga berpengaruh juga seperti dalam hal rumah adat, bahasa, seni, tradisi dan lain-lain. Dua budaya ini menjadi penunjang nilai-nilai estetika atau keindahan di Kota Sampit. 

Adapun penata musik Wahyu Saputra, tim penggarap tari Elwani Sarwando, Naria Ulya, Ayu, Imam dan Wahyu Istiana dibawah bimbingan Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Baamang Widyawati Sufiansyah. (DEWI PATMALASARI/H)