KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Dunia konservasi pernah dihebohkan dengan kisah luar biasa tentang Alba, orangutan albino satu-satunya yang diketahui di dunia.

Ditemukan pada tahun 2017, orangutan betina dengan bulu putih terang dan mata berwarna biru ini bukan hanya fenomena biologis yang langka, tetapi juga telah menjadi simbol penting dalam upaya pelestarian satwa liar di Kalimantan.

Dari laporan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan dan yayasan BOS Foundation, lembaga konservasi orang utan di Kalimantan diketahui Alba ditemukan pada 2017 di Desa Tanggirang, Kecamatan Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah. 

Penampilannya yang unik, dengan rambut putih terang yang kontras dengan orangutan pada umumnya, segera menarik perhatian. Berbeda dari orangutan lain, wujudnya yang mencolok merupakan akibat dari albinisme, yaitu cacat genetik yang sangat langka.

Menanggapi laporan dari masyarakat, BKSDA Kalimantan Tengah bersama BOS Foundation segera turun tangan. Tim gabungan ini berhasil menyelamatkan Alba, yang saat itu kondisinya rentan. Setelah melalui pemeriksaan kesehatan menyeluruh, Alba dipastikan mengidap albinisme.

Meskipun unik, albinisme membawa tantangan besar bagi Alba. Warna mencolok pada kulit dan bulunya membuatnya sangat sulit berkamuflase dari predator di hutan. 

Selain itu, albinisme sering kali menyebabkan keterbatasan penglihatan dan kerentanan kulit terhadap sinar matahari, yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya secara signifikan di alam liar.

Terlepas dari keterbatasan dan perbedaan fisiknya, tim konservasi mengamati bahwa Alba menunjukkan kemampuan beradaptasi dan bersosialisasi dengan baik. Alba dilaporkan dapat berinteraksi secara normal dengan orangutan liar lainnya, menunjukkan bahwa perbedaan warna tidak menjadi penghalang sosial di antara mereka.

Keunikan Alba bahkan membawa pesan sosial yang mendalam. Jamartin Sihite, CEO BOS Foundation, menyatakan bahwa orangutan lain tidak mempermasalahkan perbedaan warna rambut Alba.

"Justru ini jadi pesan sosial buat kita, kalau orangutan saja bisa menerima perbedaan, kenapa manusia tidak?" ucapnya dalam rilis pasca Alba ditemukan.

Saat ini, delapan tahun usai ditemukan, Alba telah hidup bebas di hutan Kalimantan. Keberhasilan misi penyelamatan ini memastikan Alba, satu-satunya orangutan albino di dunia, mendapatkan perlindungan ekstra agar dapat hidup layak di hutan hujan, sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai ikon konservasi global. (SABRIANOOR/H)