BORNEONEWS, Palangka Raya – Anggota DPRD Palangka Raya, Hap Baperdu, menegaskan pihaknya terus memantau perkembangan harga kedelai.
Ia menyebut, fluktuasi harga kedelai sangat memengaruhi ketersediaan tahu dan tempe di pasaran, yang merupakan makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat.
Menurut Hap, tingginya harga kedelai berpotensi membuat produksi tahu dan tempe menurun karena banyak perajin yang kesulitan menanggung biaya bahan baku.
“Kami khawatir jika harga kedelai mengalami kenaikan, sebab pasokan tahu dan tempe bisa terganggu. Padahal, kedua produk ini sangat penting untuk konsumsi masyarakat,” ujarnya, Minggu, 28 September 2025.
Ia menambahkan, DPRD Palangka Raya tidak tinggal diam dan berupaya mencari solusi agar harga kedelai tetap terkendali. Salah satunya dengan mendorong pemerintah untuk melakukan pengawasan distribusi serta memastikan tidak ada praktik penimbunan bahan baku yang memperparah situasi.
Hap juga menilai perlu adanya langkah strategis dari pemerintah pusat maupun daerah dalam menstabilkan harga kedelai. Mengingat sebagian besar kedelai masih bergantung pada impor, gejolak harga di pasar internasional sangat cepat memengaruhi harga dalam negeri.
“Kebijakan nasional tetap menjadi kunci, namun di daerah kita bisa memperkuat pengawasan agar tidak terjadi kelangkaan,” jelasnya.
Selain itu, ia menyarankan agar pemerintah daerah mulai mengkaji peluang pengembangan kedelai lokal. Dengan memaksimalkan produksi pertanian dalam negeri, maka ketergantungan terhadap impor bisa berkurang.
“Kalau ada dukungan bagi petani lokal, tentu ini akan menjadi solusi jangka panjang,” tambahnya.
Di sisi lain, Hap meminta agar masyarakat memahami kondisi yang terjadi dan tetap mendukung keberlangsungan usaha kecil perajin tahu dan tempe. Menurutnya, jika produksi menurun, yang paling dirugikan adalah masyarakat luas karena harga jual produk ikut naik.
“Perajin tahu dan tempe ini termasuk sektor UMKM yang harus dijaga keberlangsungannya. Jika mereka gulung tikar karena beban bahan baku, tentu akan berdampak besar terhadap perekonomian masyarakat kecil,” ucap Hap.
Hap pun menutup dengan ajakan agar pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat bersinergi dalam menghadapi persoalan ini. Ia menegaskan, menjaga kestabilan harga kedelai berarti juga menjaga ketahanan pangan rakyat.
“Kami akan terus mengawal agar tahu dan tempe tetap terjangkau di Palangka Raya,” pungkasnya. (MARINI/H)









