PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Kasongan – Kegiatan berladang masih menjadi tradisi pertanian utama masyarakat di Desa Tumbang Dahuei, Kecamatan Bukit Raya, Kabupaten Katingan. Salah satu warga, Helipusanti, yang juga berprofesi sebagai guru sekolah dasar, mengungkapkan bahwa aktivitas berladang tetap dilakukan hingga kini meski menghadapi berbagai tantangan.

Menurut Helipusanti, faktor cuaca menjadi persoalan utama yang kerap memengaruhi hasil panen. Pola iklim yang tidak menentu, seperti hujan yang datang tidak sesuai musim atau kekeringan berkepanjangan, membuat proses bercocok tanam semakin sulit diprediksi. 

“Kalau cuaca tidak mendukung, gabah bisa mengalami penurunan kualitas dan hasilnya tidak sesuai harapan,” ujarnya, Minggu, 28 September 2025.

Ia menjelaskan, perubahan cuaca ekstrem juga menyebabkan beberapa lahan menjadi kurang produktif. Tanaman padi yang seharusnya tumbuh subur terkadang gagal panen karena terlalu banyak air atau justru kekurangan air. Hal ini berdampak langsung pada ketahanan pangan masyarakat desa.

Meski demikian, tradisi berladang tetap dijaga oleh masyarakat setempat sebagai bagian dari kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Bagi mereka, ladang bukan hanya soal produksi pangan, tetapi juga mencerminkan identitas budaya dan ikatan sosial dalam komunitas.

Helipusanti menambahkan, selain tantangan cuaca, keterbatasan sarana pertanian juga menjadi hambatan. Akses terhadap pupuk, bibit unggul, dan teknologi pertanian modern masih minim.

“Kami mengandalkan cara tradisional, jadi hasil panen benar-benar bergantung pada alam,” katanya.

Menurutnya, dukungan pemerintah sangat dibutuhkan, baik dalam bentuk penyuluhan pertanian, bantuan benih, maupun penyediaan sarana irigasi. Dengan adanya intervensi tersebut, petani bisa lebih siap menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin terasa.

Selain menjadi petani, Helipusanti yang juga seorang guru SD, menekankan pentingnya pendidikan untuk memperkenalkan generasi muda pada dunia pertanian. 

Ia berharap anak-anak tidak melupakan tradisi berladang, namun juga mampu menggabungkannya dengan pengetahuan modern agar lebih berdaya saing.

“Berladang adalah warisan leluhur yang harus dipertahankan, tapi kita juga harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Harapan saya, petani tetap bisa bertahan dan hasil panen tidak terpengaruh cuaca ekstrem,” pungkasnya. (MARINI/j)