BORNEONEWS, Banajrmasin - Sebuah pemandangan unik dan memukau tersaji di kawasan Siring, tepatnya di Sungai Martapura pusat Kota Banjarmasin, Minggu, 28 September 2025. Beberapa perahu tradisional berjejer rapi membentuk formasi menarik di tepian sungai, menarik perhatian warga berbondong-bondong menuju sungai untuk menyaksikan fenomena tersebut. Pemandangan ini adalah bagian dari kemeriahan atraksi budaya Jukung Barenteng, yang digelar sebagai puncak perayaan Fun Kayak Wali Kota Cup 2025.
Acara tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Banjarmasin yang ke-499. Atraksi Jukung Barenteng dan Lomba Fun Kayak Wali Kota Cup sukses memukau warga Banjarmasin, yang tumpah ruah menyaksikan keunikan tradisi khas Banjar tersebut di kawasan Balai Kota Banjarmasin.
Jukung Barenteng merupakan sisi lain dari pesona budaya sungai di Banjarmasin yang sesungguhnya belum banyak dikenal luas oleh penikmat keunikan tradisi dan budaya Nusantara. Jika Pasar Terapung menampilkan kegiatan jual beli, Jukung Barenteng menampilkan formasi perahu yang khas. Atraksi ini adalah produk langsung dari eksistensi budaya sungai masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan.
Secara harfiah, Jukung Barenteng adalah formasi unik dari rangkaian beberapa jukung (perahu khas Banjar) yang satu sama lain diikat dengan seutas tali. Rangkaian perahu ini kemudian ditarik secara bersama-sama atau secara berombongan oleh sebuah kelotok (perahu bermesin tempel) yang berukuran lebih besar. Pola ini menciptakan iringan perahu yang panjang dan berirama di atas permukaan air.
Simbol tradisi perjalanan pedagang sungai
Menurut Zain, seorang warga Banjarmasin yang turut menyaksikan atraksi, formasi Jukung Barenteng sesungguhnya memiliki fungsi yang sangat tradisional.
"Untuk bisa menemukan atraksi unik Jukung Barenteng ini, kita bisa menemukannya di dua waktu yang berbeda, meskipun masih sama-sama di pagi hari," tutur Zain.
Waktu pertama, ia menjelaskan, adalah pada pagi buta ketika para pedagang sungai terapung mulai berangkat dari hulu, atau dari kampung-kampung pedalaman, menuju lokasi Pasar Terapung. Para pedagang yang menggunakan jukung kecil biasanya diikat menjadi satu dan ditarik oleh kelotok agar lebih efisien dan cepat sampai ke lokasi berjualan, baik di Muara Kuin, Siring Kota, maupun di Desa Lok Baintan.
Dengan digelarnya atraksi ini sebagai bagian dari Hari Jadi Kota, Pemerintah Kota Banjarmasin berhasil tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mengedukasi masyarakat, khususnya generasi muda, tentang kekayaan dan keunikan warisan budaya sungai mereka. Jukung Barenteng menjadi simbol nyata bahwa denyut nadi kehidupan dan tradisi Banjar masih kuat terikat pada sungai. (SABRIANOOR)









