BORNEONEWS, Katingan– Harga gabah dan benih padi kini menjadi tantangan tersendiri bagi para petani di pedesaan, termasuk di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng). Kondisi harga yang fluktuatif membuat petani semakin kesulitan untuk memperoleh keuntungan yang layak dari hasil panen mereka.
Berdasarkan informasi dari petani setempat, Helipusanti yang memiliki pengalaman bertahun-tahun berladang harga gabah saat ini dihitung dengan satuan tradisional.
Satu blek setara dengan lima gantang, sedangkan harga satu gantang gabah dipatok Rp20 ribu. Dengan hitungan tersebut, satu blek gabah bernilai Rp100 ribu.
"Meskipun terkesan sederhana, sistem penghitungan harga gabah ini dianggap belum memberikan keuntungan yang memadai bagi petani. Pasalnya, biaya produksi yang harus mereka keluarkan, terutama untuk membeli benih padi, kian hari semakin tinggi," katanya, Minggu, 28 September 2025.
Beberapa petani ungkapnya sering mengeluhkan bahwa harga benih padi di pasaran tidak sebanding dengan harga jual gabah setelah panen. Hal ini membuat mereka harus berulang kali memutar modal, bahkan terkadang berutang, agar bisa melanjutkan musim tanam berikutnya.
Selain itu, tantangan lain yang dihadapi adalah faktor cuaca yang tidak menentu. Hujan yang datang tidak sesuai musim, banjir, hingga kekeringan dapat memengaruhi kualitas gabah. Akibatnya, harga jual di tingkat petani semakin ditekan karena kualitas panen menurun.
Petani lainnya, Dowa berharap adanya peran lebih besar dari pemerintah daerah maupun pusat dalam menjaga kestabilan harga gabah dan benih padi.
"Dukungan subsidi, penyediaan benih unggul dengan harga terjangkau, serta kepastian pasar sangat dibutuhkan untuk membantu petani bertahan," harapnya.
Di sisi lain, ujarnya petani seperti mereka sangat berharap adanya koperasi atau lembaga penyangga yang dapat membeli gabah mereka dengan harga lebih baik. Dengan begitu, mata rantai distribusi bisa dipangkas dan petani tidak lagi terlalu bergantung pada tengkulak.
“Kalau harga gabah dan benih bisa lebih stabil, kami tentu lebih semangat berladang. Yang kami inginkan sederhana saja, hasil jerih payah kami bisa sebanding dengan biaya yang dikeluarkan,” ungkapnya.(MARINI)









