PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Di tengah rimbunnya vegetasi Pulau Salat, Kalimantan Tengah, puluhan orangutan tengah menjalani pelatihan hidup liar.

Mereka bukan sekadar penghuni kawasan konservasi, melainkan peserta dari sebuah proses panjang yang bertujuan mengembalikan naluri alamiah mereka. Di pulau seluas 2.000 hektare ini, manusia bukan pusat perhatian justru dijauhkan sebisa mungkin.

Sebanyak 140 individu orangutan telah “lulus” dari Pulau Salat. Mereka berhasil melewati tahapan rehabilitasi yang dirancang untuk meminimalkan interaksi dengan manusia.

“Kami ingin mereka punya naluri untuk menghindar saat bertemu manusia di hutan, bukan malah mendekat,” ujar Chief Sustainability Officer, Henky Satrio Wibowo pada Senin, 29 September 2025.
Prinsip ini menjadi fondasi utama dalam membentuk perilaku satwa yang siap dilepasliarkan.

Salah satu indikator keberhasilan rehabilitasi adalah kemampuan orangutan mencari makan sendiri. Di awal proses, setiap individu mendapat jatah 5–7 kilogram makanan per hari. Namun kini, jumlah itu sudah diturunkan menjadi 5 kilogram, dan akan terus dikurangi secara bertahap.

“Harapan kami, mereka bisa mencari makannya sendiri di alam. Ini bagian dari simulasi hidup liar,” jelasnya.

Di Pulau Salat, orangutan belajar membangun sarang, mengenali buah-buahan hutan, dan menghindari ancaman. Mereka diajarkan bukan dengan instruksi, melainkan dengan kondisi yang menyerupai habitat asli.

Tidak ada kandang, tidak ada pelatihan langsung hanya pengawasan dari kejauhan dan intervensi minimal. Setiap langkah mereka diamati, dicatat, dan dievaluasi.

Bagi tim konservasi, keberhasilan bukan hanya soal jumlah pelepasliaran, tetapi kualitas adaptasi. Orangutan yang terlalu jinak berisiko mendekati pemukiman manusia, yang bisa berujung pada konflik atau penangkapan ulang.

“Di sinilah Pulau Salat memainkan peran penting, sebagai ruang transisi yang mengembalikan karakter liar satwa sebelum mereka benar-benar kembali ke hutan,“ tegas Henky.

Lebih dari sekadar pusat rehabilitasi, Pulau Salat adalah simbol harapan. Di tempat ini, manusia belajar untuk tidak mendominasi, melainkan mendampingi dari kejauhan. Dan orangutan, perlahan tapi pasti, belajar menjadi liar kembal, sebagaimana mestinya.(TESTI PRISCILLA)