BORNEONEWS, Palangka Raya - Di tengah produksi sawit nasional yang tetap tinggi, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI mencatat penurunan ekspor produk sawit pada Juli 2025.
Total ekspor tercatat sebesar 3.537 ribu ton, turun 1,92 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 3.606 ribu ton. Penurunan ini terutama disebabkan oleh melemahnya permintaan terhadap produk olahan sawit di pasar global.
Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI, Mukti Sardjono, melalui Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalimantan Tengah, Rawing Rambang mengatakan bahwa penurunan paling signifikan terjadi pada ekspor minyak sawit olahan, yang anjlok 11,26 persen dari 2.599 ribu ton menjadi 2.307 ribu ton.
"Produk ini selama ini menjadi tulang punggung ekspor sawit Indonesia, sehingga penurunan tajamnya menjadi perhatian serius bagi pelaku industri. Diikuti oleh penurunan ekspor olahan minyak inti sawit atau PKO sebesar 1,70 persen, dari 167 ribu ton menjadi 164 ribu ton," kata Rawing pada Senin, 29 September 2025.
Meski demikian, ekspor minyak sawit mentah atau CPO justru menunjukkan lonjakan signifikan. Pada Juli 2025, ekspor CPO meningkat 49,75% menjadi 626 ribu ton dari bulan sebelumnya yang hanya mencapai 418 ribu ton.
Kenaikan ini menunjukkan adanya permintaan langsung terhadap bahan baku sawit, yang bisa jadi dipengaruhi oleh harga pasar internasional atau strategi pembelian negara mitra.
Ekspor oleokimia juga mengalami peningkatan sebesar 4,33 persen, dari 420 ribu ton menjadi 438 ribu ton.
Produk oleokimia berbasis sawit digunakan dalam berbagai industri seperti kosmetik, farmasi, dan bahan pembersih, sehingga kenaikan ini mencerminkan stabilitas permintaan sektor hilir non-pangan.
"GAPKI menilai dinamika ekspor ini sebagai sinyal penting bagi strategi perdagangan ke depan. Penurunan ekspor produk olahan perlu direspons dengan diversifikasi pasar dan peningkatan nilai tambah, sementara kenaikan ekspor CPO dan oleokimia membuka peluang untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global," tegas Dosen Universitas Kristen Palangka Raya ini.
Dengan produksi yang terus meningkat dan konsumsi domestik yang cenderung stagnan, GAPKI mendorong sinergi antara pelaku industri, pemerintah, dan mitra dagang untuk menjaga keseimbangan pasar.
"Langkah strategis diperlukan agar industri sawit tetap menjadi motor penggerak ekonomi nasional yang berkelanjutan dan inklusif," jelas Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng ini lagi.(TESTI PRISCILLA)









