BORNEONEWS, Palangka Raya - Kinerja ekspor produk kelapa sawit Indonesia pada bulan Juli 2025 menunjukkan peningkatan tipis dibandingkan bulan sebelumnya.
Menurut Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI, Mukti Sardjono, melalui Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalimantan Tengah, Rawing Rambang, nilai ekspor sawit tercatat naik dari US$ 3,636 miliar di bulan Juni menjadi US$ 3,690 miliar pada Juli, atau meningkat sebesar 1,46 persen.
Rawing menjelaskan bahwa kenaikan ekspor tersebut didorong oleh peningkatan permintaan dari sejumlah negara tujuan utama. India mencatat lonjakan impor sebesar 126 ribu ton, diikuti oleh Pakistan sebanyak 118 ribu ton, dan Bangladesh sebesar 26 ribu ton.
"Ketiga negara ini menjadi penyumbang terbesar dalam pertumbuhan ekspor sawit Indonesia pada bulan Juli," kata Rawing pada Senin, 29 September 2025.
Namun, peningkatan ekspor ke beberapa negara tidak diikuti oleh seluruh pasar global. GAPKI mencatat penurunan signifikan ekspor ke China sebesar 165 ribu ton, Afrika turun 105 ribu ton, Uni Eropa (EU-27) turun 53 ribu ton, Rusia turun 51 ribu ton, Malaysia turun 38 ribu ton, dan Amerika Serikat turun 7 ribu ton. Penurunan ini menunjukkan adanya dinamika pasar yang perlu diantisipasi oleh pelaku industri.
"Secara tahunan (year-on-year), nilai ekspor sawit Indonesia hingga Juli 2025 mencapai US$ 20,966 miliar. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 41,59 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang hanya mencapai US$ 14,808 miliar. Lonjakan ini menjadi indikator positif bagi kontribusi sawit terhadap devisa negara," jelasnya.
Rawing menambahkan bahwa peningkatan nilai ekspor tersebut tidak semata-mata dipengaruhi oleh volume, tetapi juga oleh harga jual yang lebih tinggi.
Rata-rata harga sawit sepanjang Januari hingga Juli 2025 mencapai US$ 1.191 per ton Cif Rotterdam, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 1.003 per ton. Kenaikan harga ini turut memperkuat posisi sawit sebagai komoditas strategis nasional.
GAPKI berharap tren positif ini dapat terus dipertahankan dengan dukungan kebijakan ekspor yang adaptif dan penguatan daya saing industri sawit nasional.
“Kami terus mendorong peningkatan efisiensi dan keberlanjutan agar sawit Indonesia tetap menjadi pilihan utama di pasar global,” tutur Rawing.(TESTI PRISCILLA)









