JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta - Kementerian Transmigrasi berkolaborasi dengan Asosiasi Penyelenggara Pemagangan Luar Negeri (AP2LN) memperluas kesempatan kerja ke Jepang bagi warga transmigran agar bisa mendapatkan ilmu dan pengalaman untuk nantinya memberdayakan kawasan transmigrasi mereka masing-masing.

Menteri Transmigrasi (Mentrans) M Iftitah Sulaiman Suryanagara menyatakan kini terdapat lebih dari dari 100 warga transmigran yang bekerja di berbagai sektor di Jepang, dengan gaji Rp25-55 juta per bulan, tergantung keahlian masing-masing.

“Kami ingin para transmigran itu nanti belajar ke Jepang, melakukan pemagangan. Ada beberapa skema, ada yang 2 tahun, 3 tahun, 5 tahun, atau bahkan 10 tahun untuk kemudian mereka nanti diberdayakan, balik lagi ke kawasan transmigrasi,” kata Iftitah Sulaiman Suryanagara dalam keterangan resmi yang diterima, Selasa 30 September 2025.

Ia mengatakan bahwa kini pemerintah sedang meningkatkan upaya industrialisasi di kawasan transmigrasi dengan memetakan berbagai potensi ekonomi yang dapat dihilirisasi serta mendorong realisasi investasi.

Dengan industrialisasi tersebut, ia berharap para transmigran yang telah memiliki pengalaman kerja di Jepang dapat terserap oleh berbagai industri yang dibangun di kawasan transmigrasi karena sudah memiliki kemampuan (skill), pengetahuan (knowledge), dan jejaring (networking) yang luas.

Iftitah menuturkan bahwa Jepang membutuhkan tenaga kerja hingga 40 ribu orang dari Indonesia, dengan kuota yang terpenuhi baru 25 ribu kuota di 24 sektor, seperti pertanian, kelautan, konstruksi dan perawatan.

"Masyarakat Jepang sangat nge-value (menilai) tenaga kerja di Indonesia karena keramahtamahannya, hospitality-nya. Bahkan kita dianggap nomor satu di antara bangsa-bangsa yang lain sebagai tenaga kerja yang hadir di Jepang," ujarnya.

Ia menyampaikan salah satu sektor yang potensial menyerap para pekerja Indonesia di Jepang adalah pertanian, perikanan, dan kelautan. Sektor-sektor tersebut juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi untuk diindustrialisasi di area transmigrasi.

Kementrans berencana untuk memberangkatkan transmigran dalam program magang ke Jepang di ketiga sektor tersebut selama 3-5 tahun, sehingga mereka memiliki pengetahuan yang cukup terkait teknologi yang diimplementasikan di sektor-sektor tersebut.

Nantinya, para transmigran yang sudah terbiasa dengan sistem dan mekanisasi yang diterapkan oleh pabrik-pabrik di Jepang tersebut akan pulang ke Tanah Air dan bekerja untuk perusahaan Jepang yang berinvestasi di Indonesia.

Sejumlah perusahaan asal Jepang dijadwalkan untuk menandatangani nota kesepahaman dengan Kementrans pada Oktober mendatang.

"Jadi kita bisa dapat double benefit (keuntungan ganda). Satu, benefit skill (kemampuan) yang betul-betul nanti terlatih dari teknologi dan sistem kerja budaya Jepang. Yang kedua adalah investor yang nanti akan berinvestasi di Indonesia di kawasan transmigrasi,” ucap Iftitah.

Mentrans Iftitah tengah melakukan kunjungan ke Jepang pada 28 September hingga 1 Oktober mendatang untuk mempromosikan potensi ekonomi di berbagai kawasan transmigrasi.

ANTARA