PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP Kementerian Keuangan melakukan studi lapangan ke Kabupaten Pati, Jawa Tengah, sebagai bagian dari perluasan mandat program pengembangan perkebunan.

Kegiatan ini mencakup kunjungan ke Laboratorium Kultur Embrio Kelapa Kopyor di Balai Penyuluhan Pertanian atau BPP Dinas Pertanian Kabupaten Pati, lahan penanaman bibit kelapa kopyor milik pemerintah daerah, serta sentra produksi kelapa kopyor di Kecamatan Dukuhseti.

Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrahman, mengatakan bahwa kunjungan ini merupakan langkah awal dalam pelaksanaan amanah baru yang diberikan melalui Peraturan Presiden Nomor 132 Tahun 2024.

“BPDP kini tidak hanya mengelola dana untuk pengembangan kelapa sawit, tetapi juga untuk kelapa dan kakao. Kami ingin memastikan bahwa program pengembangan kelapa berjalan dari hulu hingga hilir,” ujar Eddy dalam rilisnya pada Kamis, 2 Oktober 2025.

Program pengembangan kelapa yang dirancang BPDP mencakup peremajaan perkebunan kelapa serta penyediaan sarana dan prasarana pendukung. Menurut Eddy, Kabupaten Pati memiliki potensi besar dalam pengembangan kelapa kopyor karena telah memiliki infrastruktur dasar dan sumber daya manusia yang berpengalaman.

“Kami melihat kesiapan Pati sebagai model pengembangan kelapa nasional,” katanya.

Kabupaten Pati dikenal sebagai salah satu sentra kelapa kopyor di Indonesia. Komoditas ini memiliki karakteristik unik dengan tekstur lembut dan rasa khas yang berbeda dari kelapa biasa. Harga jual kelapa kopyor yang tinggi, berkisar antara Rp40.000 hingga Rp75.000 per butir, menjadikannya komoditas bernilai ekonomi tinggi dan berpotensi dikembangkan dalam industri makanan dan minuman.

Produksi kelapa kopyor di Pati menunjukkan tren peningkatan setiap tahun. Kecamatan Dukuhseti, Tayu, dan Margoyoso menjadi sentra utama, sementara Gunungwungkal, Tlogowungu, dan Gembong berperan sebagai daerah penyangga. Data Dinas Pertanian Kabupaten Pati mencatat, luas areal kelapa kopyor mencapai 1.280,27 hektare dengan rata-rata produksi 1.974,57 kilogram per hektare. Sebanyak 4.354 pekebun terlibat dalam pengelolaan komoditas ini.

BPDP menilai bahwa pengembangan kelapa kopyor di Pati dapat menjadi contoh integrasi antara riset, pengelolaan lahan, dan pemberdayaan petani.

“Kami berharap dukungan ini dapat memperkuat ketahanan ekonomi lokal sekaligus mendorong diversifikasi komoditas perkebunan nasional,” ujar Eddy.

BPDP berkomitmen untuk terus mendampingi daerah-daerah potensial dalam mewujudkan perkebunan yang berkelanjutan dan inklusif. (TESTI PRISCILLA/H)