PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Ketua Dewan Pengawas Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Dr.-Ing. Evita H. Legowo, menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan industri kelapa sawit sebagai komoditas strategis nasional. Dalam kuliah umum bertajuk “Sawit untuk Negeri: Investasi SDM Menuju Indonesia Emas 2045” di Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi atau Poltek CWE, Evita menyampaikan bahwa sawit bukan hanya penopang ekonomi, tetapi juga bagian dari transisi energi menuju masa depan yang lebih hijau.

Evita menjelaskan, meski dunia sempat terguncang pandemi Covid-19, industri sawit tetap menunjukkan ketahanan luar biasa. Indonesia bahkan tercatat sebagai produsen biodiesel terbesar di dunia melalui program mandatori B40.

“Sawit adalah minyak nabati dengan produktivitas tertinggi. Bahkan Uni Eropa pun mengakui keunggulan sawit Indonesia,” kata Evita dalam rilisnya pada Jumat, 3 Oktober 2025.

Menurut Evita, kontribusi sawit terhadap perekonomian nasional tidak hanya terlihat dari ekspor dan energi, tetapi juga dari penciptaan lapangan kerja dan penguatan UMKM di daerah. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan masih membayangi, terutama dalam hal produktivitas kebun rakyat yang baru mencapai 3,5 ton CPO per hektare per tahun. Padahal, potensi optimalnya bisa mencapai 6–8 ton.

Selain itu, isu tata kelola lahan dan kampanye negatif internasional terhadap sawit Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah. Evita menekankan perlunya pendekatan yang lebih sistematis dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan tersebut.

“Kita tidak bisa hanya bertahan, kita harus maju dengan inovasi dan kolaborasi,” katanya.

BPDP, lanjut Evita, terus mendorong program peremajaan sawit rakyat atau PSR sebagai langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. Upaya hilirisasi produk sawit juga menjadi fokus, termasuk penyediaan benih unggul, pupuk berkualitas, dan mekanisasi pertanian yang ramah lingkungan. Semua ini, menurutnya, harus didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten dan berintegritas.

Evita berharap generasi muda, khususnya mahasiswa Poltek CWE, dapat menjadi motor penggerak transformasi industri sawit ke arah yang lebih berkelanjutan.

“Investasi SDM adalah kunci menuju Indonesia Emas 2045. Sawit bukan sekadar komoditas, tetapi simbol ketahanan dan kemandirian bangsa,” ujarnya. (TESTI PRISCILLA/Y)