BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Upaya penanganan pasca-bencana angin kencang disertai hujan es di Kecamatan Dadahup, Kabupaten Kapuas, menghadapi kendala serius.
Kepala Pelaksana BPBD Kapuas, Pangeran S. Pandiangan, menyatakan bahwa timnya kesulitan melakukan pendataan dan penanganan di lokasi akibat lampu padam dan jaringan telekomunikasi yang tidak stabil.
Bencana alam ini melanda wilayah Dadahup pada Jumat sore, 3 Oktober 2025, sekitar pukul 15.00 WIB.
Cuaca ekstrem berupa hujan deras, hujan es, dan angin puting beliung telah menyebabkan dampak yang cukup masif, merusak puluhan rumah warga di beberapa desa dan memicu kekhawatiran yang meluas di tengah masyarakat.
Pandiangan, saat dikonfirmasi Borneonews pada Jumat malam, mengungkapkan hambatan yang dihadapi timnya.
"Saat ini saya masih di lokasi, upaya penanganan terkendala lampu padam dan jaringan telekomunikasi yang tidak stabil," ucapnya. Kondisi ini membuat informasi terbaru dari wilayah terdampak masih belum menentu dan proses penanganan darurat menjadi terhambat.
Kondisi infrastruktur yang lumpuh ini secara langsung menjadi hambatan besar bagi Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kapuas.
Kendala ini tidak hanya memperlambat proses komunikasi antar tim, tetapi juga sangat menghambat pendataan cepat dan koordinasi logistik yang dibutuhkan untuk penanganan korban dan pembersihan puing-puing di desa-desa yang terdampak.
Sebelumnya, dilaporkan bahwa bencana ini menyebabkan kerusakan parah pada puluhan rumah warga di sejumlah desa di Dadahup, termasuk area Trans A5, A1, A4, B1, dan B2.
Tingkat kerusakan yang masif ini memerlukan respons cepat dan terorganisir, yang sayangnya terhalang oleh minimnya penerangan dan koneksi internet yang vital.
BPBD Kapuas bersama unsur relawan lokal berupaya maksimal untuk tetap melanjutkan penanganan darurat meskipun dalam keterbatasan. (SABRIANOOR/R)








