PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Ketua Dewan Pengawas Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Dr.-Ing. Evita H. Legowo, menegaskan bahwa kelapa sawit memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan krisis energi global. Dalam kuliah umum di Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi atau Poltek CWE, Evita menyampaikan bahwa limbah sawit tengah dikaji sebagai bahan baku bioetanol.

“Krisis energi global tidak bisa hanya dijawab dengan fosil. Sawit memiliki potensi besar sebagai sumber energi bersih,” kata Evita dalam rilisnya pada Sabtu, 4 Oktober 2025.

Evita menekankan bahwa keberlanjutan industri sawit tidak hanya bergantung pada teknologi dan lahan, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya. Sejak 2016, BPDP telah menjalankan program beasiswa sawit bagi anak pekebun, aparatur sipil negara, dan pengurus koperasi. Program ini mencakup biaya kuliah, biaya hidup, buku, praktik lapangan, hingga sertifikasi profesi.

Hingga Agustus 2025, program tersebut telah melahirkan ribuan lulusan dari berbagai jenjang pendidikan. Tercatat lebih dari 3.200 lulusan D1/D2, 3.345 lulusan D3, serta 2.727 lulusan D4/S1. Para alumni kini tersebar di perusahaan perkebunan, koperasi, maupun kembali mengelola kebun keluarga.

“Kami ingin generasi sawit tidak hanya menjadi pekerja, tapi juga pemimpin, peneliti, bahkan pengusaha,” kata Evita lagi.

Tahun ini, BPDP menargetkan 11.000 penerima manfaat melalui skema beasiswa, pelatihan vokasi, dan program manajerial. Bidang studi yang ditawarkan mencakup pembibitan, teknik mesin, manajemen logistik, hingga teknologi informasi. Evita menyebut, diversifikasi bidang ini penting untuk menjawab kebutuhan industri sawit yang semakin kompleks dan berbasis teknologi.

Selain pendidikan formal, BPDP juga memperluas pelatihan vokasi sesuai Keputusan Dirjen Perkebunan Nomor 40 Tahun 2025. Materi pelatihan meliputi teknis panen dan pascapanen, standar Indonesian Sustainable Palm Oil atau ISPO, kewirausahaan, hingga kepemimpinan. Beberapa alumni pelatihan bahkan telah mendirikan koperasi, mengakses dana peremajaan sawit rakyat atau PSR, dan mengembangkan usaha pengolahan sawit skala kecil.

Evita menegaskan bahwa pendidikan vokasi harus menjadi garda depan dalam menjembatani kesenjangan keterampilan di industri sawit.

“Kalau tidak disiapkan sejak dini, kita akan tertinggal. Pendidikan vokasi harus menjawab skill-gap industri sawit yang makin modern,” ujarnya. (TESTI PRISCILLA/j)