KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Bagi Anda yang ingin melepaskan kepenatan dari hiruk pikuk perkotaan, Pulau Lampahen di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, bisa menjadi destinasi wisata alam yang menjanjikan.

Berbeda dari pulau-pulau lain, termasuk Pulau Telo yang juga berada di Kapuas, Lampahen menawarkan pengalaman ekowisata yang unik dengan menjadi habitat bagi ratusan primata, termasuk satwa langka.

Perjalanan menuju Pulau Lampahen, yang secara administratif masuk dalam Desa Pulau Kaladan, Kecamatan Mantangai, sudah menyajikan pemandangan satwa liar yang memukau. Melintasi Sungai Hampalam, pengunjung akan disambut oleh monyet hidung besar khas Kalimantan, yaitu Bekantan, yang sering terlihat bergelantungan di pohon bakau di pinggir sungai.

Pulau ini kini diproyeksikan untuk dikembangkan sebagai kawasan konservasi bagi hewan langka seperti Bekantan, Orang Utan, dan berbagai jenis monyet lainnya. Keberadaan ratusan primata di Pulau Lampahen menjadikannya lokasi ideal untuk penelitian sekaligus daya tarik bagi wisatawan yang peduli lingkungan.

Untuk mencapai pulau primata ini, pengunjung harus menggunakan transportasi air. Perjalanan bisa memakan waktu kurang lebih 8 jam dari pusat Kapuas, namun durasi ini bisa lebih cepat jika menggunakan speedboat. Meskipun jauh, perjalanan ini terbayar lunas dengan pengalaman berinteraksi langsung dengan alam liar.

Di balik keindahan alamnya, Pulau Lampahen diselimuti aura mistis dan sejarah lokal yang kental. Di beberapa titik pulau, pengunjung akan menemukan kain kuning yang terikat, menandai tempat-tempat yang dianggap keramat oleh penduduk setempat. Kain kuning ini menjadi penanda bahwa pulau ini memiliki nilai historis dan spiritual yang dijaga oleh masyarakat Desa Pulau Kaladan.

"Fenomena yang paling terkenal dan masih menjadi misteri adalah menghilangnya monyet-monyet yang menghuni pulau ini di setiap Hari Jumat. Hingga kini, belum ada penjelasan ilmiah yang dapat memverifikasi atau menampik fenomena tersebut. Yang tersisa hanyalah mitos dan keyakinan yang dipegang teguh oleh warga sekitar, yang meyakini fenomena ini berkaitan erat dengan sejarah pulau," tutur Hardi warga Kapuas yang meneruskan cerita warga setempat.

Menurut cerita warga, di masa lalu terdapat seorang penyiar agama Islam yang melintasi Sungai Kapuas dan bersandar di pulau ini untuk bernazar dan mencari keberuntungan (melampah). Setelah melakukan nazarnya, penyiar tersebut tidak pernah keluar lagi dari dalam pulau. 

Konon, ia sudah menyatu dengan pulau dan memasuki dimensi lain, yang kemudian diikuti oleh rombongan monyet yang mendatangi pulau dan seolah mengikuti beliau.

Pulau ini kemudian diberi nama Lampahen, yang berarti pulau tempat melampah atau mencari keberuntungan. Keyakinan ini membuat banyak orang mendatangi pulau untuk meminta berkat dan menunaikan nazar. Sebagai bentuk penghormatan, pengunjung yang datang juga sering membawakan makanan seperti pisang, telur, atau kacang untuk monyet-monyet jinak tersebut.

Pulau Lampahen, dengan keunikan sebagai habitat primata dan misteri spiritualnya, menawarkan kombinasi sempurna antara ekowisata dan wisata budaya. Potensi alam dan mitos yang melekat ini menjadi aset berharga yang menjadikan Lampahen destinasi wajib di Kalimantan Tengah. (SABRIANOOR/H)