BORNEONEWS, Palangka Raya -
Dua emiten sawit milik konglomerat H. Abdul Rasyid, yakni PT Citra Borneo Utama Tbk atau CBUT dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS, mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang signifikan sepanjang semester pertama 2025. Lonjakan pendapatan dan laba bersih keduanya mencerminkan penguatan strategi bisnis dan efisiensi operasional di tengah dinamika industri kelapa sawit.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, CBUT membukukan pendapatan sebesar Rp6,6 triliun, naik 38,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kinerja ini ditopang oleh penjualan produk hilir seperti olein, stearin, dan palm fatty acid distillate atau PFAD. Laba periode berjalan tercatat Rp42,2 miliar, melesat 89,1 persen dari Rp22,3 miliar pada semester I 2024.
Meski beban pokok penjualan meningkat menjadi Rp5,73 triliun, efisiensi operasional memungkinkan CBUT mencetak laba bruto sebesar Rp935,46 miliar, tumbuh 73,5 persen dari tahun sebelumnya.
CBUT merupakan anak usaha SSMS, dengan kepemilikan saham sebesar 70,22 persen. Emiten berkode CBUT ini fokus pada pengolahan produk hilir sawit seperti RBDPO, RBDPL, RBDPS, PFAD, dan PKE.
SSMS, yang bergerak di sektor hulu perkebunan kelapa sawit, juga menunjukkan performa positif. Pendapatan perusahaan naik 39,78 persen menjadi Rp7,19 triliun. Laba kotor tercatat Rp2,52 triliun, tumbuh 56,55 persen dari Rp1,61 triliun pada semester I 2024.
Penjualan ke pihak ketiga, termasuk palm olein, palm stearin, minyak inti sawit, dan asam lemak distilat, menyumbang Rp4,54 triliun atau 63,16 persen dari total pendapatan. Sementara itu, penjualan produk lainnya menyumbang Rp2,65 triliun.
Keberhasilan dua emiten ini tak lepas dari kepemimpinan profesional yang ditanamkan oleh Abdul Rasyid. CBUT saat ini dipimpin oleh Rorry Christian Tobing, yang memiliki rekam jejak panjang di industri hilir sawit. Sementara SSMS dinakhodai Jap Hartono, mantan CFO Kencana Agri, yang bergabung sejak 2020.
Keduanya dinilai berhasil memperkuat fondasi operasional dan memperluas pasar produk sawit, baik di sektor hulu maupun hilir. Strategi ini menjadi kunci dalam menjaga daya saing dan keberlanjutan bisnis CBI Grup di tengah tantangan global. (TESTI PRISCILLA/j)









