PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Kalimantan Tengah, Alpius Patanan, menegaskan bahwa risiko bencana banjir di wilayah Kalimantan Tengah masih tergolong tinggi berdasarkan hasil kajian KRB 2022–2026.

Hasil kajian tersebut menunjukkan potensi kerugian akibat banjir dapat mencapai Rp25,71 triliun, mencakup dampak kerusakan fisik dan kerugian ekonomi jika banjir besar terjadi.

“Banjir di Kalimantan Tengah memang sudah menjadi ancaman tahunan. Kondisi geografis yang didominasi dataran rendah dan banyaknya aliran sungai besar membuat daerah ini sangat rentan terhadap limpasan air hujan,” ujar Alpius di Palangka Raya, dikutip Borneonews pada Rabu, 8 Oktober 2025.

Ia menyebutkan, 99 kecamatan masuk kategori bahaya tinggi dan 37 kecamatan bahaya sedang. Wilayah dengan potensi terdampak terbesar meliputi Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Pulang Pisau, dan Kabupaten Kapuas.

Selain itu, Alpius menilai 90 persen kecamatan di Kalimantan Tengah masih memiliki kapasitas rendah dalam penanggulangan bencana karena minim sarana, personel, dan perencanaan teknis di tingkat lokal.

“Artinya, kalau banjir datang tiba-tiba, respons di lapangan belum tentu bisa cepat dan terkoordinasi,” tambahnya. (HERMAWAN DP/y)