Oleh : Epra Sentosa

SETELAH istirahat secukupnya, perjalanan dilanjutkan menuju kamp Samatuan dan tiba sekitar pukul 16.00 WIB. Karena sudah menjelang petang, rombongan pun menginap di kamp tersebut.

 Kemudian, Sabtu (5/11) pada pukul 08.00 WIB, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Bukit Tantan Samatuan.  Dalam perjalanan, rombongan menggunakan mobil dan untuk menuju kaki bukit. Terjal dan licinnya jalan yang kita lewati, maka mobil-mobil tim ekspedisi tak bisa digunakan lagi.  Terpaksa tim meminjam alat berat berupa dua buah bulldozer untuk dinaiki ramai-ramai. Dan bulldozer itu merayap mendaki bukit-bukit yang terjal itu.

 Namun demikian, tim bisa tiba di kaki Bukit Samatuan dan melakukan pendakian bukit dengan ketinggian 1.110 meter dari permukaan laut dan kemiringan kurang lebih 80 derajat.  Tim pertama yang melakukan pendakian berangkat dari kaki bukit pukul 09.00 WIB dan sampai ke puncak pukul 12.00 WIB.

 Untuk mendaki Bukit Samatuan bukan hal yang mudah. Pasalnya, jika salah langkah bisa terjatuh ke jurang. Namun demikian, puluhan peserta ekspedisi tetap bersemangat untuk mendaki hingga ke puncak bukit, walaupun jalan yang miring licin.

 Dari peserta 60 orang yang ingin mendaki Bukit Samatauan, hanya kurang lebih 30 orang yang berhasil sampai puncak bukit, dengan waktu tempuh lebih 3 jam.

 Sisanya tidak mampu melanjutkan mendaki karena medan jalan yang sangat sulit dan penuh resiko. Bahkan, ada jalan yang berbatu dan berlumut. Sehingga peserta ekspedisi memerlukan tali untuk naik bukit.

 Sementara puluhan orang tim ekspedisi yang berhasil mencapai puncak Bukit Tantan Samatauan menancapkan bendera Merah Putih dengan iringan lagu Indonesia Raya.

 Kemudian, Panji Kabupaten Gumas dan bendera kuning (khas Agama Hindu Kaharingan). Bahkan dari puluhan tim yang mencapai puncak bukit, diantaranya ada Tiong Batu yang berusia 83 tahun dan Basir Hendrik. Sebelum penancapan bendera terlebih dahulu dilakukan ritual oleh Basir Hendrik. (yoh/*)